Komoditas beras yang terus dijaga

id beras, bulog, mentan amran sulaiman

Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) bersama Dirut Perum Bulog Budi Waseso (kedua kanan) berbincang dengan pedagang ketika meninjau kestabilan harga beras di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Jumat (14/9/2018). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj)

Jakarta (ANTARA News) - Beras merupakan bahan makanan pokok yang paling banyak dicari di Nusantara, sehingga ketersediaan pasokan serta tingkat harganya juga perlu diawasi dengan baik oleh otoritas terkait.

Untuk itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Dirut Perum Bulog Budi Waseso memantau di Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (14/9), guna memastikan bahwa pasokan beras aman dan harganya masih normal.

Menurut Amran Sulaiman, meski terjadi kekeringan di sejumlah lokasi tetapi dapat dipastikan bahwa produksi beras masih tetap berjalan dengan baik.

Hal tersebut juga karena pengubahan paradigma tanam padi yang merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah antara lain guna menstabilkan harga beras.

Perubahan paradigma itu berakar dari sebelumnya diketahui bahwa paceklik yang sebelumnya kerap terjadi pada November hingga Januari, adalah karena pada bulan Juli hingga September biasanya hanya menanam separuh dari kebutuhan.

Untuk itu, ujar dia, kunci agar tidak paceklik adalah menanam tidak hanya separuh, tetapi kalau bisa seluruh kebutuhan yang diperlukan, pada Juli, Agustus, September setiap tahun.

Mentan menuturkan bila dahulu harga beras dapat naik karena produksinya kurang, tetapi pada saat ini stok beras yang berada di gudang-gudang Bulog dan pasar induk cukup melimpah.

Amran Sulaiman juga menyebutkan bahwa guna memastikan harga beras stabil, sejumlah langkah yang dilakukan antara lain meningkatkan secara masif operasi pasar oleh Bulog hingga ke tempat-tempat terpencil.

Selain itu, ujar dia, Kementan juga telah berupaya memotong rantai pasok beras untuk dapat menekan harga di tingkat konsumen.

Pesan Mentan

Mentan juga berpesan kepada para pengusaha beras di Indonesia agar jangan ada yang menaikkan harga, karena setelah memantau langsung di pasar ditemukan bahwa harga terendah yang dicek adalah Rp8.200 per kilogram sehingga dapat disimpulkan tidak ada alasan untuk menaikkan harga.

Mentan juga berpendapat bahwa bila saat ini pihak Kementerian Pertanian juga sangat memperhatikan kesejahteraan para petani, sekaligus ingin agar pihak konsumen juga senang dengan tingkat harga yang ada.

Sementara itu, Dirut Bulog Budi Waseso berpesan kepada para pedagang agar mereka di pasar bila ingin membeli beras dapat langsung dilakukan di gudang Bulog, yang saat ini stoknya dalam keadaan penuh.

Budi memaparkan saat ini Bulog memiliki stok hingga 2,4 juta ton, namun karena kapasitas gudang perusahaan tersebut hanya bisa menampung sekitar 2,2 juta ton, maka harus menyewa gudang milik pihak lain.

Sebelumnya, Budi di Jakarta, Selasa (4/9), juga menyatakan pihaknya siap melaksanakan arahan dari Presiden Joko Widodo untuk menyediakan pasokan dalam rangka stabilisasi harga beras medium untuk menekan tingkat inflasi atau kenaikan harga yang terkait dengan komoditas itu.

Dirut Bulog juga menyatakan, intervensi pasar juga selaras dengan surat yang dilayangkan Kementerian Perdagangan akhir Agustus.

Menurut dia, aktivitas tersebut dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia, dan untuk saat ini juga dinilai pergerakan harga beras relatif masih cukup terkendali.

Bulog sejak awal 2018 hingga kini telah menggelontorkan cadangan beras pemerintah sebanyak 338.502 ton atau sekitar 10.000-15.000 ton per hari.

Dirut Bulog juga memastikan bahwa beras yang digelontorkan itu merupakan beras berkualitas baik dan sangat layak untuk dikonsumsi warga.

Penetrasi pasar

Sebagaimana diwartakan, pemerintah melalui Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan akan melakukan penetrasi pasar beras guna menjaga stabilisasi harga komoditas tersebut sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Saat ditemui usai Rakor di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Senin (27/8), Mendag mengatakan penetrasi pasar dengan menggelontorkan beras dari stok Bulog tersebut akan dilakukan sesegera mungkin, bahkan dimulai hari itu.

Enggartiasto mengatakan aktivitas penetrasi pasar tersebut dilakukan guna menjaga stabilisasi HET beras medium, yakni Rp9.450 per kilogram.

Sementara itu, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan bahwa waktu untuk melakukan impor beras harus tepat agar dapat melindungi harga beras hasil petani yang ditanam di berbagai daerah.

Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman mengingatkan bahwa pengalaman impor di awal tahun 2018 di mana beras impor tiba dua minggu menjelang panen membuat harga beras petani turun.

"Mengingat beras itu komoditas esensial, pemerintah patut menjaga stok beras nasional untuk mencegah terjadinya kelangkaan dan kenaikan harga," kata Assyifa Szami Ilman.

Menurut dia, berkaca pada impor Januari 2018, Bulog patut untuk melakukan impor dengan waktu yang tepat agar impor tidak meredam harga beras terlalu rendah dan merugikan petani yang dapat terjadi apabila dilakukan saat masa panen.

Assyifa berpendapat bahwa impor masih menjadi instrumen penting dalam mengendalikan harga beras di Tanah Air. Berdasarkan data BPS, terdapat kenaikan harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) sebesar 3,05 persen dan 1,64 persen pada Agustus 2018.

Pada saat yang sama, lanjutnya, harga beras tidak mengalami kenaikan, malah justru turun sebesar 0,28 persen. Kedepannya, dengan adanya musim kemarau yang melanda dan disertai dengan semakin berkurangnya luasan lahan panen, tidak dapat dipungkiri adanya peluang harga beras akan naik dan memengaruhi inflasi secara keseluruhan.

Sebagaimana diwartakan, Anggota Komisi IV DPR Endang Srikarti Handayani mengutarakan harapannya agar pemerintah jangan lagi melakukan kebijakan impor beras dan dapat meningkatkan serta menyerap produksi beras nasional yang dihasilkan petani Nusantara.

Politisi Golkar itu berpendapat bahwa untuk meningkatkan produksi beras, pemerintah harus menyubsidi pertanian yang bisa dinikmati petani secara langsung.

Ia berpendapat bahwa dengan memberikan subsidi dan menyerukan kepada generasi muda untuk membangun desa dalam bertani, maka ke depannya diharapkan tidak akan ada lagi impor beras.

Baca juga: Laris manis, beras sachet Bulog
Baca juga: Bulog siap pasok beras tekan inflasi

 

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar