Terduga teroris Palangka Raya direkrut melalui internet

id teroris kalteng,brigjen dedi prasetyo, densus 88 polri,terduga teroris

ilustrasi Polisi (ANTARA FOTO)

Palangka Raya (ANTARA News) - Detasemen Khusus 88 Mabes Polri sedang mendalami kebenaran informasi terduga teroris berinisial LD yang ditangkap di Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, direkrut melalui internet.

Pendalaman tersebut dilakukan untuk memastikan apakah benar LD masuk dalam jaringan Ansharut Daulah (JAD), kata Wakil Kepala Polisi Daerah Kalteng, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, di Palangka Raya, Rabu.

"LD ini kami menduga direkrut melalui internet, dan melihat video di youtube. Kami juga masih mendalami masalah itu, sekaligus mengembangkan jaringannya di Kalteng berada di mana saja," ucap dia.

Perwira bintang satu yang akan menjabat Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri itu menyebut, apabila pihaknya mendapatkan bukti lengkap dari mana terduga teroris ini direkrut, tentunya tim yang saat ini masih bergerak di lapangan akan dibeberkan ke masyarakat mengenai penindakan yang mereka lakukan.

Dia mengatakan, untuk status LD masih sebagai terperiksa karena, petugas masih mencari kawanan jaringan teroris yang diduga kuat masih berada di beberapa daerah di provinsi setempat.

"Kalau alat bukti yang sudah diamankan dari kediaman LD yaitu, sejumlah busur panah, bahan kimia yang digunakan untuk alat peledak, senjata tajam dan sejumlah senjata rakitan yang dibuat secara manual menggunakan paralon," kata Dedi.

Dia mengaku, sesuai arahan Kapolda Kalteng Irjen Pol Anang Revandoko, bahwa seluruh anggota yang berada di setiap wilayah wajib meningkatkan kewaspadaan, baik ketika berada di Mapolres, Polsek atau sedang menjalankan kedinasannya di suatu wilayah.

"Intinya, tingkatkan kewaspadaan ketika berada di mana pun, karena sasaran teroris adalah anggota. Bahkan kalau perlu bekerjasama dengan masyarakat untuk memerangi yang namanya memberantas teroris di muka bumi ini," demikian Dedi.

Pewarta : Jaya Wirawana Manurung
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar