Terduga jaringan teroris Pekanbaru dikenal religius

id terduga teroris, daulay, densus 88

Arsip: Sejumlah wartawan mengambil gambar rumah kontrakan seorang terduga teroris yang ditangkap jajaran Polresta Pekanbaru di Pekanbaru, Riau, Senin (2/7/2018). Seorang terduga teroris yang juga terlibat perampokan disertai pembunuhan ditangkap di rumah kontrakan tersebut dengan barang bukti dua bilah kapak, satu celurit, tiga keping VCD serta empat lembar bendera yang diduga merupakan bendera kelompok jaringan ISIS. (ANTARA /Rony Muharrman)

Pekanbaru (ANTARA News) - Daulay, seorang terduga jaringan teroris yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau dikenal sebagai sosok yang religius serta memiliki pergaulan yang baik dengan masyarakat.

Johnson Tobing, ketua RT 01 RW 03 Kelurahan Perhentian Marpoyan, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, tempat tinggal Daulay alias Opung menjelaskan hal tersebut kepada Antara, Sabtu.

"Sejujurnya kami tidak begitu percaya bahwa beliau terlibat dalam kelompok begitu (teroris). Selama ini dia sangat baik dan jiwa sosialnya tinggi," kata Johnson yang turut dibenarkan oleh sejumlah tetangga-tetangga Daulay saat ditemui Antara.

Tobing mengatakan bahwa Daulay (46) merupakan salah satu sosok yang dituakan dan disegani di perumahan tersebut. Selain karena dia merupakan warga pertama yang menghuni perumahan itu sejak 2006 silam, Daulay juga memiliki ilmu agama yang baik.

Daulay atau kerap disapa Opung (paman) oleh warga sekitar berusaha mengajak warga untuk selalu disiplin, taat beribadah, hingga hal sederhana, seperti makan tidak boleh mubazir, kata Tobing.

Ia mengisahkan bahwa Daulay merupakan sosok yang sangat ramah kepada masyarakat. Bahkan, Daulay yang bekerja di PT PLN dan telah memiliki jabatan penting itu kerap membantu masyarakat tidak mampu untuk memasang saluran listrik.

"Dia selalu menggratiskan biaya pemasangan listrik bagi warga tidak mampu," ujarnya.

Selain itu, keseharian Daulay yang memiliki tiga anak perempuan itu juga merupakan sosok yang mudah bergaul dan membaur di lingkungan. Tobing memastikan, seluruh warga komplek yang bermukim di sekitar kelurahan tersebut mengenal sosok Daulay.

"Beliau bukan orang baru. Semua bagus, agama bagus, keseharian bagus. Tidak ada mencurigakan sama sekali," jelasnya.

Untuk itu, dia dan warga lainnya mengaku sangat terkejut dengan penangkapan tersebut.

Sebelum ditangkap Densus 88, Tobing dan warga lainnya sebenarnya telah mendengar bahwa Daulay disebut-sebut terlibat dalam jaringan tertentu. Hal itu diketahui warga dari media massa yang memberitakan nama tetangganya itu sebagai sosok pendana dana terorisme setelah tertangkapnya dua warga Pekanbaru di Palembang, 14 Mei 2018 lalu.

Mereka adalah HR alias AR (38) dan HS alias AA (39). Dari keterangan pihak kepolisian, mereka akan melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua, pascakerusuhan yang dilakukan para narapidana teroris.

Berdasarkan pengakuan mereka tersebutlah, terungkap nama Daulay yang disebut sebagai penyandang dana dalam rencana aksi kegiatan terorisme.

"Sudah dengar soal itu. Daulay saya rasa juga sudah tau. Tapi kami beraktivitas biasa saja, dia tetap bekerja, dan ke masjid. Juga masih tetap bergaul bersama kami. Makanya kami sulit percaya," tuturnya.

Daulay sendiri merupakan salah satu terduga jaringan teroris yang ditangkap di Kota Pekanbaru oleh Densus 88 Antiteror. Dia ditangkap di sebuah lokasi di Pekanbaru, Jumat petang (27/7). Lediaman Daulay di perumahan RT 01 RW 03 Kelurahan Perhentian Marpoyan sempat digeledah polisi.

Dari rumah itu, petugas menyita sejumlah barang bukti seperti laptop, ponsel, buku-buku dan beberapa kotak kardus.

Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar