Kata pengamat LIPI soal figur Mahfud MD untuk dampingi Jokowi

id mahfud md,cawapres jokowi,pengamat lipi,lili romli

Mahfud MD (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Jakarta (ANTARA News) - Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli menilai penggunaan politik identitas berpotensi memecah belah masyarakat sehingga dirinya menyarankan Joko Widodo memilih calon wakil presiden yang dapat menangkal hal tersebut.

"Dengan kehadiran Mahfud MD, Jokowi bisa merangkul kalangan Islam dan meminimalisir serangan politik identitas," kata Lili dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan, saran tersebut diberikan karena Jokowi menjadi satu-satunya figur yang dukungannya memenuhi syarat sebagai calon presiden.

Lili menilai sosok Mahfud MD memiliki basis dukungan yang cukup luas seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan dari semua golongan karena mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu merupakan tokoh Islam yang moderat.

"Mahfud juga berpengalaman menjadi anggota DPR dan menteri, serta banyak membuahkan pemikiran untuk kemaslahatan umat," ujarnya.

Dia menilai semua figur yang bersaing pada Pilpres 2019 harus mencegah dan mengantisipasi kelompok tertentu yang menggunakan isu politik identitas untuk meraih kemenangan karena politik identitas berpotensi memecah belah umat.

Baca juga: Bursa cawapres, Ray Rangkuti: Mahfud terkendala restu PKB

Menurut Lili, Jokowi dan partai koalisi dapat meraih dukungan dari kelompok Islam jika Mahfud dipinang jadi cawapres.

"Yang paling berpotensi jadi cawapres Jokowi adalah Mahfud MD. Karena integritas Mahfud sudah terbukti, basis dukungannya besar," katanya.

Menurut dia, Mahfud memenuhi semua kriteria dan secara kemampuan lebih baik dibandingkan kandidat cawapres lainnya yang namanya sudah beredar luas di masyarakat.

Selain itu dia menilai, pengalaman dan kemampuan Mahfud MD bisa melengkapi Jokowi dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan menjalankan program pro kepentingan umat.

Baca juga: Mahfud MD dinilai punya kapasitas jadi wakil presiden

Pewarta : Imam Budilaksono
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar