1.156 warga Karangasem mengungsi hindari dampak Gunung Agung

1.156 warga Karangasem mengungsi hindari dampak Gunung Agung

Sejumlah warga mengasuh anaknya di tempat pengungsian di Desa Duda Timur, Karangasem, Bali, Selasa (3/7/2018), menyusul peningkatan aktivits Gunung Agung. Sedikitnya 800 warga yang bermukim di lereng Gunung Agung terpaksa mengungsi ke desa tetangga setelah ledakan disertai lontaran batu pijar terjadi saat gunung api itu meletus pada Senin (2/7/2018). (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Amlapura, Bali (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem mencatat jumlah sementara warga yang mengungsi untuk menghindari dampak aktivitas vulkanik Gunung Agung sampai 1.156 orang hingga Selasa pukul 08.00 WITA.

"Jumlah pengungsi itu tercatat hingga pukul 08.00 WITA dan masih bisa berubah karena pergerakannya sangat dinamis," kata Kepala BPBD Karangasem Ida Bagus Ketut Arimbawa di Amlapura, Karangasem.

Warga mengungsi di balai-balai banjar (dusun) di Kecamatan Rendang, Kecamatan Kubu, Kecamatan Selat dan Kecamatan Abang.

Sampai saat ini, menurut data BPBD, kebutuhan logistik pengungsi seperti matras dan selimut yang masih tersedia di posko induk.

Sementara kebutuhan makanan untuk pengungsi, menurut Ida Bagus Ketut Arimbawa, sudah dipenuhi oleh bagian logistik Dinas Sosial serta dapur umum oleh BPBD Karangasem, BPBD Provinsi Bali serta Dinas Sosial dan instansi lainnya.

"Kami sudah gerakkan jam 04.00 pagi tadi ke Rendang, ke Desa Ban di Kecamatan Kubu yang ada pengungsi paling banyak," katanya.

Gunung Agung mengalami erupsi strombolian, melontarkan lava pijar yang didahului dengan suara ledakan keras sekitar pukul 21.04 WITA, Senin (2/7). Lontaran lava pijar itu membuat sebagian are hutan di lereng Gunung Agung terbakar.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melaporkan ketinggian kolom abu saat erupsi itu mencapai sekitar dua kilometer dan teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

Baca juga: Gunung Agung lontarkan lava pijar
 
Pewarta : Dewa Wiguna
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018