Pemkot Surabaya Ubah Wajah Stren Kali Jagir Wonokromo

id ubah wajah stren kali surabaya,mural stren kali surabaya,pemkot surabaya

Pemkot Surabaya Ubah Wajah Stren Kali Jagir Wonokromo

Pemerintah Kota Surabaya mengubah wajah kawasan Stren Kali di Jagir Wonokromo yang selama ini terkesan kumuh karena banyak bangunan liar, melalui sentuhan mural. (Abdul Hakim)

Kami ingin mempercantik kawasan tersebut dan menyediakan wadah bagi komunitas mural agar tidak mengecat di sembarang tempat
Surabaya (Antaranews Jatim) - Pemerintah Kota Surabaya mengubah wajah kawasan Stren Kali di Jagir Wonokromo yang selama ini terkesan kumuh karena banyak bangunan liar, melalui sentuhan mural.

"Kami ingin mempercantik kawasan tersebut dan menyediakan wadah bagi komunitas mural agar tidak mengecat di sembarang tempat," kata Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser di Surabaya, Senin.

Menurut dia, setelah rumah-rumah di kawasan tersebut ditertibkan, pemkot ingin mempercantik dinding sepanjang 200 meter tersebut melalui sentuhan mural.

"Kami ingin mempercantik kawasan tersebut dan menyediakan wadah bagi komunitas mural agar tidak mengecat di sembarang tempat," katanya.

Nantinya, kata Fikser, setelah pengerjaan mural selesai, pemkot akan melakukan pemasangan lampu, membuat taman dan menanam pohon di sekitar kawasan tersebut.

"Nantinya kawasan tersebut akan menjadi salah satu objek atau spot foto bagi pecinta fotografi," ujar Fikser.

Selain kawasan Stren Kali Jagir Wonokromo yang akan dihias mural, Fikser menuturkan progres ke depan, pemkot akan melakukan hal serupa di beberapa titik yang sudah ditertibkan oleh Pemkot Surabaya salah satunya di kawasan Keputran. "Itu juga akan dibuat mural," ujarnya.

Ditanya alasan kenapa memilih mural, Fikser menjelaskan bahwa mural merupakan media yang memiliki pesan dan nilai seni yang tinggi. Selain itu, mural juga dicintai oleh anak muda.

"Dibuat foto atau apapun, mural terlihat bagus karena di setiap ukiran mengandung berbagai macam motif dan pesan yang kuat bagi semua orang," katanya.

Fikser mengatakan pengerjaan mural melibatkan komunitas mural yang ada di Surabaya. Mereka, lanjut Fikser, diberi ruang dan disiapkan segala macam fasilitas oleh Pemkot Surabaya agar mampu berekspresi melalui mural.

"Kami sediakan media itu supaya mereka mampu mengekspresikan seni mereka di situ, tidak di tempat lain," katanya.

Koordinator Mural Lukman Hidayat mengatakan pengerjaan mural dimulai pada Rabu (7/2) dan selesai pada Minggu (11/2) malam. Setidaknya ada 10 orang yang membantu pengerjaan mural Stren Kali Jagir Wonokromo. Mereka terbagung dalam satu komunitas bernama Budal Isuk Moleh Sak Karep (BIMS).

"Awalnya ditarget selesai 7-10 hari dan di awal pengerjaan terkendala cuaca hingga hari 3. Tapi alhamdulilah ternyata pengerjaan lebih cepat dari yang diperkirakan," kata Lukman.

Menurut Lukman, mural kali ini mengangkat tema kehidupan di pesisir kali yang meliputi anak-anak, hunian dan juga alam. Tetapi, lanjut Dia, pengerjaan mural kali ini dikhususkan untuk mengenang para pahlawan dan masestro seni lukis Indonesia.

"Ada wajah Affandi, Raden Saleh, Basuki Abdullah, Mantan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), aktivis HAM Munir Said Thalib, Sastrawan dan aktivis HAM asal Surakarta Wiji Thukul, pahlawan Surabaya Sutomo alias Bung Tomo serta penyanyi kelahiran Jombang Soedjarwoto Soemarsono alias gombloh," urainya.

Setelah merampungkan pengerjaan mural, ke depan, Lukman berharap muncul warna-warni mural yang lain di Surabaya dengan mengangkat kearifan lokal yang ada di sekitar daerah masing-masing.

Senada dengan Lukman, Tabri (71) salah seorang veteran yang kebetulan melintas di kawasan Stren Kali Jagir sangat mengapresiasi kinerja Pemkot Surabaya.

Menurutnya, wajah Stren Kali Jagir akan semakin indah di saat pengendara dan pejalan kaki melintas di tepi sungai jagir disuguhi ukiran mural yang sarat akan nilai perjuangan.

"Semoga Surabaya terus mampu menciptakan lingkungan yang asri, bersih dan nyaman bagi warganya dan tidak melupakan jasa para pahlawan," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar