Puti Menangis Kunjungi Rumah Kelahiran Kakeknya

id rumah lahir soekarno, mbak puti, bacawagub jatim, surabaya

Puti Menangis Kunjungi Rumah Kelahiran Kakeknya

Bacawagub Jatim Puti Guntur Soekarno saat mengunjungi rumah lahir kakeknya, Bung Karno, di kawasan Jalanln Pandean Surabaya, Senin (21/1). (Foto Istimewa)

Nasionalisme Indonesia sejak awal memang dilahirkan dari dimensi keagamaan yang mengatur nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan sosial, menghargai perbedaan orang lain, dan mengedepankan musyawarah atau dialog.
Surabaya (Antaranews Jatim) - Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno menangis saat mengunjungi rumah kelahiran Presiden pertama RI Soekarno, di kawasan Jalan Pandean Surabaya, Senin.

“Saya serasa pulang kampung dan bersyukur bisa datang ke sini, tempat kelahiran kakek saya,” ujarnya di tengah sambutan sembari terisak.

Ia mengaku tak menyangka bisa melihat rumah kelahiran kakeknya dan senang bisa melihat berbagai sudut ruangan, termasuk kamar yang ditempati Bung Karno saat itu.

Puti yang mengenakan busana merah bermotif hitam dibalut kerudung merah bercerita bahwa kakeknya mendapat julukan “Putra Sang Fajar” karena saat dilahirkan 6 Juni 1901 tepat menjelang matahari terbit di ufuk timur.

“Berbanggalah karena dari rumah ini lahir tokoh besar, yang menjadi pemimpin Republik Indonesia di kemudian hari,” ucap putri Guntur Soekarno Putra tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa kisah Bung Karno menyemangatinya untuk bekerja optimal bagi Jatim dan menjadikan inspirasi dalam setiap langkahnya.

“Menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat berat. Inspirasi beliau Insya Allah selalu hadir dalam langkah-langkah kita semua,” kata dosen tamu Kokushikan University Jepang tersebut.

Usai dari rumah kelahiran sang proklamator, Puti bergeser ke tempat Bung Karno melakoni kehidupan masa remaja di rumah kos, Jalan Peneleh VII, milik tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. 

Puti yang disambut ratusan ibu-ibu menceritakan di tempat itulah Bung Karno ditempa dengan tiga spirit sekaligus, yaitu keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan.

“Nasionalisme Indonesia sejak awal memang dilahirkan dari dimensi keagamaan yang mengatur nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan sosial, menghargai perbedaan orang lain, dan mengedepankan musyawarah atau dialog,” katanya.

Puti menambahkan, di Surabaya-lah Bung Karno mendapat tempaan pemikiran dan strategi merebut kemerdekaan dengan dibimbing tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto.

“Di rumah Pak Tjokro, tempat kos Bung Karno ini, saya membayangkan beliau berlatih pidato, berdiri sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah penjajah,” katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar