"ASEAN Goes to Village" digelar di Banyuwangi

id masyarakat asean, asean goes to village, pusat studi asean unej, masyarakat ekonomi asean di desa, universitas jember

Ketua Pusat Studi ASEAN-Center for Research in Social Studies and Humanities (C-RiSSH) Unej Himawan Bayu Patriadi, PhD (kiri) memberikan sambutan dalam kegiatan "ASEAN Goes to Village" di Kampus IAI Ibrahimy Genteng, Kabupaten Banyuwangi. (Pusat Stud

Kegiatan itu bertujuan mensosialisasikan MEA kepada para kepala desa dan perangkatnya sebagai ujung tombak birokrasi pemerintah, bahwa sekarang Indonesia adalah bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN yang harus memahami dan mengikuti regulasi ASEAN dengan berbagai implikasinya,
Banyuwangi (Antara Jatim) - Pusat Studi ASEAN (PSA) Universitas Jember (Unej) menggelar  sosialisasi peluang dan tantangan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang dikemas dalam dialog forum kepala desa bertema "ASEAN Goes to Village" di Kampus IAI Ibrahimy Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.

Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Direktorat Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng yang dihadiri sekitar 200 kepala/perangkat desa di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

"Kegiatan itu sangat penting bagi desa dan warga desa karena mereka semua akan terdampak implementasi MEA. Aparat desa merupakan ujung tombak birokrasi pemerintah di tingkat akar rumput yang bersentuhan langsung dengan kondisi riil masyarakat," kata Ketua Pusat Studi ASEAN-Center for Research in Social Studies and Humanities  (C-RiSSH)  Unej Himawan Bayu Patriadi, PhD di Kabupaten Banyuwangi.

Sejauh ini, lanjut dia, banyak desa yang belum mengetahui secara pasti regulasi, peluang dan tantangan ASEAN, manfaat, dan mungkin keberadaan ASEAN secara umum belum diketahui oleh masyarakat yang berada di pedesaan.

"Pengetahuan tentang ASEAN dan MEA itu penting untuk meningkatkan kesigapan dan persaingan yang muncul akibat berlakunya Masyarakat ASEAN, serta implementasi ASEAN Community perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat bawah," tuturnya.

Menurutnya desa menjadi ujung tombak birokrasi pemerintahan dan menjadi pusat-pusat produksi pertanian, serta penyediaan tenaga kerja, sehingga sangat penting bagi mereka untuk mendapatkan informasi yang utuh dan benar mengenai kompleksitas implementasi MEA dengan segala peluang dan tantangannya.

"Kegiatan itu bertujuan mensosialisasikan MEA kepada para kepala desa dan perangkatnya sebagai ujung tombak birokrasi pemerintah, bahwa sekarang Indonesia adalah bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN yang harus memahami dan mengikuti regulasi ASEAN dengan berbagai implikasinya," ucap dosen FISIP Unej itu.

Ia mengatakan hasil yang diharapkan dari kegiatan itu adalah meningkatnya kesiapan daerah, khususnya Kabupaten Banyuwangi dalam hal daya saing, peluang pasar, dan jejaring internasional dalam aspek produk, industri kreatif lokal, pariwisata yang semuanya itu pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di kabupaten setempat.

"Kegiatan itu merupakan pilot project untuk membangun sebuah model sosialisasi masyarakat ekonomi ASEAN untuk masyarakat 'grassroots' di seluruh Indonesia," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar