Muhammadiyah Surabaya Bantah Eksploitasi Siswa Saat Aksi Rohingya

id Muhammadiyah Surabaya, Bantah Eksploitasi Siswa, Saat Aksi Rohingya

Ketua PDM Surabaya Mahsun Jayadi (Abdul Hakim)

Surabaya (Antara Jatim) - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya membantah telah
mengeksploitasi ribuan siswa-siswi SD, SMP dan SMA untuk ikut aksi
kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di depan gedung Grahadi, Surabaya,
Selasa.


"Bukan eksploitasi siswa, sama sekali tidak ada," kata Ketua PDM Surabaya Mahsun Jayadi kepada Antara di Surabaya, Selasa.


Menurut dia, semula aksi solidaritas ini hanya untuk kalangan
Muhammadiyah saja, kemudian diperluas dengan aksi yang diikuti kalangan
lintas agama, lintas universitas, ormas dan lainnya.


Saat ditanya berapa siswa yang ikut dalam aksi tersebut, Mahsun
memperkirakan sekitar 4.000, sedangkan siswa sekolah Muhamamdiyah
sekitar 3.000 siswa.


Meski demikian, lanjut dia, aksi kali ini melibatkan seluruh amal
usaha Muhammadiyah yang ada di Surabaya. "Jadi bukan pendidikan saja,
tapi amal usaha Muhammadiyah lainnya, seperti kesehatan. Dan, tidak ada
tujuan tertentu, Muhammadiyah mengerahkan semua amal usaha yang ada
kebetulan yang paling banyak adalah siswa," ujarnya.


Aksi tersebut diikuti oleh tokoh lintas agama, tokoh masyarakat,
ormas, KNPI, OKP, Komunitas Surabaya Oh Surabaya (SOS), organisasi
wanita, pelajar dan lemen masyarakat di Surabaya.


"Apa yang menimpa minoritas etnis Rohingya adalah tragedi
kemanusiaan yang nyata. Ini adalah bencana kemanusaiaan," kata
Kordinator Umum Komite Aksi Kemanusiaan Surabaya Untuk Rohingya, M
Arifan.


Untuk itu, lanjut dia, komite ini menyatakan sikap mendesak
Pemerintah Bangladesh untuk membuka perbatasan demi alasan kemanusiaan
sehingga memungkinkan etnis Rohingya menyelamatkan diri dari persekusi
Pemerintahan Myanmar.


Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga mendesak ASEAN untuk menekan
Myanmar agar menghentikan praktik genosida terhadap etnis Rohingya.


Komite juga mendesak Komite Hadiah Nobel untuk mencabut penghargaan
Nobel Perdamaian bagi Aung San Suu Kyi, salah satu pemimpin terkemuka
Myanmar yang dinilai tidak menunjjukkan kesungguhan mengakhiri tragedi
kemanusiaan di Rohingya.


"Kami juga meminta Pemerintah Indonesia ikut andil dalam upaya
menyelesaikan persoalan kemanusiaan di Rohingya," katanya.(*)

Pewarta :
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar