Otomasi dan digitalisasi sudah mengubah dunia. Jenis pekerjaan juga berubah, maka perusahaan harus ikut beradaptasi termasuk dalam hal keterampilan tenaga kerja
Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani mendorong langkah adaptasi industrial di berbagai sektor terhadap era kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI).
"Otomasi dan digitalisasi sudah mengubah dunia. Jenis pekerjaan juga berubah, maka perusahaan harus ikut beradaptasi termasuk dalam hal keterampilan tenaga kerja," katanya di Surabaya, Rabu.
Shinta menegaskan adaptasi harus dilakukan karena tantangan hubungan industrial kini tak hanya soal tenaga kerja dan perusahaan tetapi juga soal kemampuan adaptasi terhadap teknologi.
Menurutnya, literasi digital menjadi kunci penting di tengah perubahan ini namun transformasi digital juga memengaruhi ketersediaan lapangan kerja.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan masyarakat harus memiliki kemampuan upskilling agar lapangan pekerjaan yang tercipta berkualitas terutama di sektor informal yang berperan penting menopang industri padat karya.
Shinta menegaskan ada tiga fokus utama yang perlu dijaga dalam semangat Indonesia Incorporated yaitu mencegah PHK, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga daya saing industri.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso pun mengapresiasi langkah Apindo yang aktif menjembatani dialog antara dunia usaha dan pemerintah.
Ia menjelaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai kesepakatan internasional untuk menghadapi era AI.
Di tingkat ASEAN, pemerintah sudah menyepakati Digital Economic Framework Agreement (DEFA) sedangkan di APEC ada AI Initiative yang menekankan pendekatan Human-Centered AI.
"Artinya penggunaan AI harus memberi manfaat dan kesejahteraan bagi manusia, bukan soal efisiensi industri,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPP Apindo Jatim Eddy Widjanarko menilai perkembangan AI tidak bisa dihindari seiring banyak sektor usaha kini beralih pada penggunaan mesin dan sistem otomatis.
“AI sudah menjadi masa depan industri. Kita memang harus beradaptasi agar tetap relevan dan bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Dari sisi tenaga kerja, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas sebagai kunci hubungan industrial yang sehat di era baru ini.
Ia tidak memungkiri bahwa sekitar 86 persen tenaga kerja Indonesia masih berpendidikan SD hingga SMA sehingga perlu diciptakan langkah besar dalam peningkatan keterampilan.
“Kami di Kemenaker tidak bicara program kecil, tapi dampak besar. Karena produktivitas bangsa hanya bisa naik kalau kualitas tenaga kerjanya juga meningkat,” kata Yassierli.
Pewarta: Astrid Faidlatul HabibahEditor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026