Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma meninjau langsung proses distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan gizi anak terjaga di MI Al Islah yang berada di Desa Dawuhan Wetan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin.
"Kami ingin memastikan setiap anak menerima gizi seimbang secara langsung dan tepat sasaran. Proses distribusi MBG harus terstruktur, terpantau, dan higienis agar manfaatnya maksimal," kata Wabup Yudha di Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Rowokangkung.
Wabup Lumajang mengamati seluruh mekanisme distribusi, mulai dari persiapan menu di dapur MBG, penyimpanan higienis, pengemasan, hingga penyaluran ke 64 siswa/siswi penerima manfaat, karena kunjungan itu menekankan fokus pemkab pada ketepatan, akuntabilitas, dan kualitas dalam setiap tahap distribusi gizi anak-anak.
"Setiap tahap dijalankan dengan pengawasan ketat dan koordinasi lintas pihak, termasuk tim dapur, sekolah, dan perangkat desa," tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada kepatuhan terhadap standar operasional distribusi, pengelolaan yang konsisten, dan pemantauan rutin.
"Dengan cara itu, anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi mendapatkan gizi yang mendukung pertumbuhan fisik, daya tahan tubuh, dan kemampuan belajar," katanya.
Ia mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat, tenaga dapur, dan sekolah, yang menjadikan proses distribusi MBG efektif, aman, dan berkelanjutan, karena distribusi yang baik adalah fondasi keberhasilan program gizi anak dan tanpa proses yang terstruktur, manfaatnya tidak akan maksimal.
Dapur MBG di Desa Dawuhan Wetan melayani 1.681 siswa dari delapan sekolah di Kecamatan Rowokangkung dengan menu yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak, termasuk protein, vitamin, dan mineral penting, sehingga langsung menargetkan faktor risiko stunting.
Pemkab Lumajang menegaskan komitmen untuk terus menguatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Dawuhan Wetan menjadikan distribusi MBG yang tepat sasaran, higienis, dan terpantau sebagai standar operasional, sekaligus langkah nyata untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
"Selain menyediakan makanan bergizi, program itu juga menjadi sarana edukasi bagi anak dan masyarakat tentang pentingnya nutrisi, pola makan sehat, dan kebiasaan hidup bersih," katanya.
Pendekatan itu memastikan bahwa upaya penanganan stunting tidak hanya berhenti pada pemberian makanan, tetapi membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mendukung pertumbuhan anak secara berkelanjutan.
