Sidoarjo (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono menyebutkan sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi penopang utama pendapatan nasional di luar minyak dan gas.
"Ekonomi kreatif dapat menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan," katanya di sela kolaborasi ekonomi kreatif yang digelar di Sidoarjo, Rabu.
Bambang mengatakan potensi ekonomi kreatif Indonesia terus menunjukkan tren positif sektor ini bisa menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi negara dan bahkan melampaui kontribusi migas.
"Kalau ekonomi kreatif ini dikelola secara maksimal, hasilnya bisa luar biasa," ujarnya.
BHS, sapaan akrabnya, menjelaskan selain memberikan sumbangan besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ternyata sektor ekonomi kreatif juga memiliki daya serap tenaga kerja tinggi mencapai sekitar 26 juta orang di berbagai subsektor.
Ia menilai, 17 subsektor ekonomi kreatif seperti busana, kuliner, kriya, hingga desain produk mampu memperkuat citra nasional sekaligus memperluas pasar ekspor nonmigas.
“Di beberapa negara, ekonomi kreatif menjadi sumber pendapatan utama. Contohnya di Vietnam, satu titik destinasi berbasis ekonomi kreatif saja bisa menarik delapan juta turis dan menghasilkan sekitar Rp200 triliun. Itu membuktikan potensi besarnya,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sidoarjo Yudi Irianto menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat dan DPR RI dalam mengembangkan pelaku ekonomi kreatif daerah.
“Ini momentum penting bagi pelaku ekonomi kreatif untuk meningkatkan kemampuan dan berinovasi. Kami berharap kegiatan seperti ini berkelanjutan agar berdampak pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sidoarjo,” ujar Yudi.
Ia menegaskan, dengan dukungan pembinaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta DPR RI, pelaku usaha di daerah dapat memperluas akses pasar, terutama dalam hal branding dan pemasaran produk.
“Harapan kami, produk-produk kreatif lokal bisa semakin dikenal, tidak hanya di Sidoarjo, tetapi juga di Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, hingga pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
