Surabaya (ANTARA) - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono menyelesaikan studi magister ilmu politik di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) dengan menyoroti pentingnya pembangunan pelabuhan laut pendamping Tanjung Priok.
“Yang dikhawatirkan adalah akan terjadi kongesti karena kapasitas kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 10 juta TEUs. Saat ini sudah mencapai 7 juta TEUs dengan pertumbuhan rata-rata 5-7 persen,” ujarnya melalui keterangan yang diterima di Surabaya,Senin.
Dalam tesisnya yang berjudul “Implementasi Kebijakan Pembangunan Pelabuhan Laut (Studi Kasus Pembangunan Pelabuhan Laut Patimban Tahap Pertama di Kabupaten Subang Jawa Barat)”, ia menyoroti pentingnya Pelabuhan penopang aktivitas Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta yang semakin padat.
Menurutnya dengan kebijakan politik ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah overload, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa berjalan dengan baik dan lancar.
Ia menilai keilmuan politik yang diperolehnya akan menjadi bekal dalam merumuskan kebijakan publik melalui perannya sebagai legislator, meski berlatar belakang pendidikan teknik.
“Keilmuan politik ini kami dapatkan, karena ilmu politik tentu akan mendasari atau menunjang pekerjaan kami dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai pengusaha, Bambang Haryo juga menyatakan akan lebih bersemangat memperjuangkan kepentingan nelayan, pelaku UMKM, serta masyarakat kecil dengan bekal ilmu politik yang dimilikinya.
“Kami harap dengan ilmu ini kami bisa lebih memperjuangkan mereka untuk menuju kebijakan-kebijakan yang ada di pemerintah,” katanya.
