Ponorogo, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mengapresiasi kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di wilayah setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun, di Ponorogo, Kamis mengatakan kegiatan tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi.
"Gempa di Ponorogo memiliki tingkat risiko sedang dengan tren meningkat dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena itu, kesadaran dan ketangguhan masyarakat perlu terus ditingkatkan," ujarnya.
Ia menjelaskan meskipun Ponorogo tidak memiliki potensi tsunami karena jauh dari laut, kewaspadaan terhadap gempa tetap harus dijaga.
Berdasarkan peta kerawanan, hampir seluruh wilayah Ponorogo berpotensi terdampak getaran.
"Secara faktual terdapat sesar Grindulu yang melintas di Kecamatan Ngrayun dan Bungkal, memanjang hingga Pacitan. Namun aktif atau tidaknya sesar itu perlu dikaji lebih lanjut oleh BMKG," katanya.
Masun menambahkan kerusakan bangunan akibat gempa di Ponorogo biasanya terjadi pada rumah-rumah tua tanpa struktur bertulang.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau memperhatikan aspek konstruksi bangunan agar lebih tahan terhadap guncangan.
Ia berharap kegiatan SLG yang digelar BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk dapat menjadi wadah pembelajaran bagi masyarakat dan relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dalam memperkuat kapasitas tanggap darurat di tingkat lokal.
"Peserta SLG diharapkan bisa menularkan pengetahuan dan keterampilan mitigasi ke lingkungan masing-masing. Ke depan, kami juga berharap ada sistem peringatan dini yang lebih efektif sebelum gempa terjadi," ujarnya menambahkan.
