Teheran (ANTARA/Xinhua-OANA) - Saat harapan berkembang bagi penyelesaian sengketa nuklir Iran melalui cara diplomatik, negara Persia itu berkeras meminta pengakuan atas "hak nuklirnya".
Kelompok P5+1, lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB ditambah Jerman, dan Iran telah terlibat dalam perundingan alot mengenai program nuklir kontroversial selama lima tahun terakhir, tapi tak ada terobosan yang dihasilkan dari pembicaraan intensif.
Barat telah menuduh Iran secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir dengan kedok sipil, tuduhan yang selalu dibantah oleh Teheran.
Menurut laporan Barat pada Selasa (30/10), Uni Eropa dan Amerika Serikat "sangat mengharapkan" penyelesaian diplomatik bagi masalah nuklir Iran, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Rabu pagi.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton, Selasa, mengatakan ia berencana bertemu dengan Kepala Perunding Nuklir Iran Saeed Jalili "dalam waktu dekat", kata laporan tersebut. Selainitu, Menteri Luar Negeri AS juga "menyampaikan harapan" pada hari itu bahwa Republik Islam tersebut dapat "meraih kesempatan penyelesaian diplomatik bagi masalah nuklirnya".
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Urusan Asia dan Oceania Abbas Araghchi, Selasa, mengatakan negaranya mengharapkan "keberhasilan" babak berikutnya pembicaraan nuklir dengan besar dunia, kata Press TV.
Araghchi menyampaikan optimisme bahwa babak berikutnya perundingan antara Iran dan P5+1 mengenai program nuklir negeri itu akan dilandasi atas "i'tikad baik dan akan berakhir dalam keberhasilan", kata laporan tersebut.
"Semua fasilitas (yang diperlukan) dan kesempatan bagi penyelesaian damai masalah antara kedua pihak (tentang program nuklir Iran) tersedia, jika P5+1 memperlihatkan i'tikad baik pada babak berikut pembicaraan dengan Iran," kata Araghchi sebagaimana dikutip.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast, Selasa, mengatakan guna menyelesaikan masalah nuklir tersebut, P5+1 mesti memiliki pendekatan "logis" ke arah program nuklir Iran dan hak nuklir Iran, termasuk hak untuk membuat bahan bakar bagi kegiatan nuklir damai, yang mesti diakui.
Iran telah menawarkan pandangannya "secara jelas" dalam pembicaraan terdahulu dengan P5+1 dan telah mengajukan sejumlah usul serta menunggu tanggapan mereka, kata Mehmanparast.
Setelah Iran dan P5+1 menyelenggarakan pembicaraan intensif di Moskow, Rusia, pada 18-19 Juni, mereka sepakat untuk bertemu lagi di Istanbul, Turki, pada Juli pada tingkat ahli. Menurut Ali Baqeri, Wakil Perunding Nuklir Iran, pembicaraan di Istanbul "positif".
Namun, tak ada tanggal dan tempat yang ditetapkan bagi perundingan tingkat tinggi lebih lanjut.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.