Surabaya (ANTARA) - Sebanyak lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan inovasi parfum dari ekstrak limbah buah bernama “Dauroma” yang dinilai lebih tahan lama dan ramah lingkungan.
"Pembuatan 'Dauroma' dilatarbelakangi permasalahan sampah di Indonesia khususnya limbah buah yang semakin meningkat," kata Ketua Tim Mahasiswa Fakultas Teknik Ubaya Nicole Olivia Tranggono di Surabaya, Jawa Timur, Jumat.
Selain Nicole, tim juga terdiri atas Selena Hans, Christopher Kayne, Fransiskus Hendra Setiawan Roni, dan Cloresita Margareta Hawins.
Nama "Dauroma" berasal dari gabungan kata “daur ulang” dan “aroma” yang merepresentasikan misi utama tim untuk mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi.
Ia menyebut bersama tim ingin menciptakan parfum eco-friendly yang memanfaatkan limbah buah dari UMKM jus di Indonesia.
“Selain eco friendly, parfum ini memiliki bau harum yang tahan lama lebih dari delapan jam. Aroma buah alami yang khas dari 'Dauroma' dapat membangkitkan perasaan bahagia, meningkatkan energi, serta menciptakan kesan ramah saat pengguna memakainya,” katanya.
Bahan dasar parfum terbuat dari limbah buah, seperti apel, mangga, dan pisang. Parfum beraroma apel diberi nama “Talya”, mangga “Ashbel”, dan pisang “Ertz”.
Pembuatan parfum membutuhkan waktu selama dua minggu. Proses dimulai dari pengumpulan dan ekstraksi limbah kulit buah serta penyaringan ekstraksi, kemudian dilanjutkan dengan formulasi komposisi parfum.
Setelah semua bahan dicampur, dilakukan proses pematangan (maceration) agar aroma menyatu dengan baik, dikemas dalam botol, dan melalui tahap quality control sebelum akhirnya siap dipasarkan.
Pembuatan inovasi dibantu oleh dosen pembimbing, Adhika Putra Wicaksono dan dibina oleh Ubaya InnovAction Hub (UIH). Inovasi ini berhasil lolos Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
“Saat ini kami fokus mempersiapkan parfum yang siap diperjualbelikan di masyarakat. Harapannya, 'Dauroma' tidak hanya menjadi pilihan parfum dengan aroma unik dan tahan lama, namun juga dapat berkontribusi untuk mengurangi limbah, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, serta pemberdaan masyarakat lokal melalui proses produksi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Nicole.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.