50 Persen Sumber Air di Batu Mati

id 50 persen sumber air di batu mati

Malang - Lebih dari 50 persen dari sekitar 110 sumber air di kawasan Kota Batu, Jawa Timur, sudah mengering alias mati akibat alih fungsi lahan dan kerusakan hutan yang berfungsi menyimpan air.

Menurut Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim simpu Malang purnawan D Negara, Jumat, alih fungsi hutan di kawasan Batu tersebut sebagian besar dipergunakan untuk pembangunan hotel, vila serta kawasan pertanian sayuran.

"Akibat dari kerusakan hutan itu, tidak hanya mematikan sejumlah sumber air, tapi juga mengakibatkan debit air Sumber Brantas yang menjadi titik nol aliran Sungai Brantas juga menurun drastis," katanya.

Padahal, lanjutnya, kondisi sumber air dan hutan di Kota Batu menjadi representasi ekosistem di wilayah Jatim secara keseluruhan. Representasi ekosistem itu bisa dilihat dari kerapatan hutan serta keragaman hayatinya.

Sebelumnya Kepala Humas, Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Perum Jasa Tirta (PJT) I Malang Tri Harjono mengatakan, dari 110 sumber air yang ada di kawasan Arboretum Sumber Brantas, sekarang tinggal 57 sumber saja.

"Banyaknya sumber air yang debitnya berkurang (menyusut), bahkan mati tersebut sebagai akibat dari penebangan hutan yang tidak terkendali dan beralih fungsi menjadi perkebunan sayur yang tidak mampu menahan air," ujarnya.

Dari 57 sumber yang masih tersisa itu, sekitar 20 sumber berada di kawasan hutan milik Perhutani dan sisanya di kawasan hutan milik masyarakat. Kalau hutan yang berada di lahan Perhutani, PJT masih bisa menjamin tetap terjaga, tapi yang ada di wilayah "kekuasaan" warga harus mendapat pantauan khusus, sebab tidak sedikit tanaman kerasnya diubah menjadi tanaman sayur, sehingga mematikan sumber airnya.

Sumber air yang tinggal 57 titik itu sekarang debit airnya juga sudah menurun. Contohnya, sumber air Binangun, sebelumnya debit airnya mencapai 250 liter/detik, namun sekarang tinggal 230 liter/detik.

Sementara sumber air di Arboretum Sumber Brantas yang selama ini menjadi titik nol aliran Sungai Brantas antara 2-3 liter/detik. Meski debitnya kecil, ketika musim kemarau tetap stabil.

"Kami terus berupaya melakukan penanaman berbagai jenis pohon yang mampu menahan dan menyerap air agar stabilitas debit dan sumber air yang masih tersisa itu tetap terjaga," tandasnya. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar