Sumenep (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur melakukan pemantauan ke sejumlah pasar tradisional, sebagai upaya untuk mengantisipasi peredaran beras oplosan di wilayah itu.
"Pemantauan dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari unsur pemkab, aparat kepolisian dan TNI," kata Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo di Sumenep, Kamis.
Ia menjelaskan temuan adanya peredaran beras oplosan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia meresahkan masyarakat.
Oleh karena itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan pemantauan bersama dengan mendatangi sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sumenep.
"Selain melakukan pemantauan langsung kepada para pedagang, tim ini juga menyampaikan sosialisasi agar tidak menjual beras oplosan," katanya.
Dia menjelaskan hasil pemantauan yang dilakukan tim dalam dua hari terakhir ini, tidak ditemukan adanya peredaran beras oplosan di Kabupaten Sumenep.
Namun demikian, ujar dia, pemantauan terus dilakukan hingga dipastikan bahwa Sumenep benar-benar aman dari peredaran beras oplosan.
Selain memantau kemungkinan adanya peredaran beras oplosan, tim Pemkab Sumenep itu juga memantau harga bahan kebutuhan pokok di pasaran.
Menurut Kepala Bagian Perekonomian dan Sumbar Daya Alam (SDA) Kabupaten Sumenep Dadang Dedi Iskandar, harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di Sumenep aman.
"Meski ada kenaikan, seperti beras, minyak goreng, dan gula, tapi stok masih aman," katanya.
Hasil pemantauan yang dilakukan tim ini menyebutkan bahwa beras premium merek Sania Rp14.400 per liter, beras medium lokal merek kepompong Rp14.800 per kilogram, gula pasir dalam negeri Rp16.500 per kilogram, minyak goreng premium kemasan botol 1 liter Rp16.000, minyak curah Rp17.800 per liter, dan telur ayam ras Rp29.000 per kilogram.
"Kenaikan rata-rata Rp1.000 dan hanya telur yang naik Rp2 ribu per kilogram," katanya.
Pewarta: Abd AzizEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026