Banyuwangi (ANTARA) - Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, diikuti 125 siswa dan diluncurkan oleh perwakilan Kementerian Sosial dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Senin.
Dari 125 siswa itu terdiri atas 50 siswa SMA, 50 SMP dan 25 siswa SD, khusus di jenjang SD, sekolah hanya menerima siswa kelas 4, 5, dan 6.
"Mohon doa dan dukungannya semoga Sekolah Rakyat ini menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak kita. Semoga mereka senang, sehat, dan bisa belajar dan tumbuh dengan baik," kata Bupati Ipuk saat meluncurkan pelaksanaan Sekolah Rakyat di Gedung Balai Diklat PNS, di Desa Licin, Kecamatan Kabupaten Banyuwangi, Senin.
Sekolah Rakyat merupakan program inisiasi Presiden RI Prabowo Subianto, yang merupakan pendidikan berasrama untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk menyapa langsung para siswa dan orang tua yang hadir mengantar anak-anaknya, sembari mengecek fasilitas yang ada di Sekolah Rakyat itu.
"Awal masuk sekolah anak-anak masih menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Tadi para siswa juga dilakukan pengecekan kesehatan, untuk memastikan kesiapan mental dan fisik mereka mengikuti proses belajar mengajar," ujarnya.
Sejak hari pertama ini, kata Ipuk, para siswa sudah mulai tinggal di asrama dan ia meminta pihak sekolah agar melakukan pengawasan karena siswa berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA, serta terdiri dari putra dan putri.
"Keamanan dan kenyamanan anak-anak harus menjadi prioritas, karena ini sistem berasrama, perlu dipastikan pengawasan selama 24 jam," katanya.
Sementara itu, Inspektur Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Afrizon Tanjung mengapresiasi kesiapan Banyuwangi dalam menyelenggarakan Sekolah Rakyat.
Menurutnya, Banyuwangi menjadi satu dari 63 titik peluncuran Sekolah Rakyat secara nasional pada 14 Juli 2025.
"Tahun ini Kemensos menargetkan 200 Sekolah Rakyat yang direncanakan berdiri di berbagai daerah., dan Banyuwangi menjadi salah satu yang telah memenuhi syarat kelayakan," tutur Afrizon Tanjung.
Ia mengaku gembira melihat antusiasme Banyuwangi dan masyarakat dalam menyukseskan program ini, bahkan Afrizon Tanjung menyebut peluncuran ini sebagai bentuk sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam menyelesaikan persoalan pendidikan dan kemiskinan.
Untuk media pembelajaran, sekolah ini dilengkapi sistem pembelajaran berbasis digital melalui Learning Management System (LMS) yang telah disiapkan oleh Kementerian Sosial.
"Perangkat media pembelajaran seperti laptop, dan lainnya akan segera didistribusikan guna mendukung proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat ini," katanya.
Sekolah Rakyat Banyuwangi memiliki lima ruang kelas dan empat unit asrama dengan total kapasitas 126 siswa.
Terdapat 21 tenaga pengajar dan 12 wali asrama yang mendampingi siswa selama 24 jam.
Dalam dua bulan pertama ini siswa menjalani masa adaptasi, bagaimana beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru, kebiasaan baru, serta kehidupan berasrama.
Pewarta: Novi HusdinariyantoEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026