Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur bersinergi dalam penyiapan lahan investasi sapi perah sebagai langkah strategis memperkuat industri peternakan dan meningkatkan produksi susu nasional.
"Pengembangan investasi sapi perah di daerah menjadi bagian dari agenda besar Kementan dalam memperkuat mata rantai hulu-hilir peternakan nasional," kata Direktur Hilirisasi Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Makmun dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Dia menyampaikan pengembangan industri sapi perah mampu memperkuat ketahanan pangan hewani, membuka lapangan kerja, dan mendekatkan industri ke sumber produksi, sejalan arah kebijakan Kementan dorong investasi dan produksi nasional.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung percepatan investasi pengembangan sapi perah skala besar.
“Support (Dukungan) investasi tidak boleh lambat,” kata Hanindhito dalam forum diskusi terbatas bersama Direktorat Hilirisasi Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan di Kediri.
Rapat itu dipimpin langsung Bupati Hanindhito yang dihadiri sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), jajaran Sekretariat Daerah, serta perwakilan dari PT Irfai Berkah Sejahtera (IBS), perusahaan peternakan lokal yang menjadi inisiator proyek itu di Kendari.
Dalam rapat itu, Bupati Hanindhito mengatakan PT IBS yang berbasis di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, berencana memperluas usahanya dari peternakan sapi pedaging ke sapi perah.
Perusahaan itu saat ini memiliki 700 sapi pedaging dan 228 sapi perah, dengan target populasi sapi perah mencapai 3.000 ekor dalam lima tahun ke depan, dengan 500 ekor ditargetkan terbangun pada 2025.
Sebagai langkah awal, perusahaan mendatangkan 100 sapi perah dari Australia melalui skema joint shipment dengan PT Greenfield, dimana pengiriman telah dilakukan pada 27 Juni 2025 dan kini dalam karantina.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, PT IBS membutuhkan lahan seluas 23 hektare milik Pemerintah Kabupaten Kediri yang akan dimanfaatkan sebagai area kandang dan sumber pakan. Sementara industri pengolahan susu akan dibangun di atas lahan milik perusahaan sendiri.
Hanindhito menyatakan kesiapannya untuk mempercepat proses legalitas lahan tersebut dengan meminta seluruh OPD terkait bergerak cepat dan segera melaporkan bila menemui hambatan.
"Saya tidak ingin investasi strategis seperti ini terhambat urusan administrasi,” ujarnya.
Agar program ini dapat segera berjalan, lanjut Hanindhito, proses pengalihan hak guna usaha (HGU) dari PD Margomulyo ke hak pengelolaan lahan (HPL) Pemda Kediri segera diselesaikan.
Setelahnya, lahan tersebut akan dinilai oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai dasar skema kerja sama jangka panjang, baik melalui kerja sama pemanfaatan (KSP) selama 30 tahun atau kerja sama penyediaan infrastruktur (KSPI) hingga 50 tahun.
Sementara itu dalam forum tersebut PT IBS berkomitmen menyalurkan dana tanggung jwab sosial perusahaan (CSR) sebesar Rp200–300 juta per tahun untuk memperbaiki rumah tidak layak huni dan memberdayakan masyarakat miskin produktif sebagai tenaga kerja di peternakan.
Pewarta: Muhammad HariantoEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.