Malang (ANTARA) - Mochamad Andik meraih gelar doktor dari Prodi Doktor Ilmu Sosial Fakultas Parcasarjana Universitas Merdeka Malang, setelah mempertahankan disertasinya yang meneliti tentang perilaku pemilih milenial di Kota Malang.
Pada sidang terbuka ujian disertasi dengan judul "Perilaku Politik Pemilih Milenial; Kajian Realitas Sosial pada Pemilihan Umum Legislatif 2024 di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang", Andik dinyatakan lulus dengan predikat "sangat memuaskan" di kampus Unmer Malang, Jawa Timur, Kamis.
Dia menguraikan hasil penelitian itu bahwa perilaku politik menunjukkan sikap politik pemilih milenial menyukai caleg yang melakukan komunikasi politik, baik secara langsung dengan pemilih, maupun komunikasi menggunakan media sosial.
"Sedangkan tindakan politik pemilih milenial dilakukan berdasarkan respons terhadap latar belakang caleg, termasuk rekam jejak (track record) dan profil caleg," kata Andik, sesuai ringkasan hasil disertasinya.
Baca juga: Petani milenial Sumenep dilatih membuat pupuk organik cair
Menurut hasil penelitiannya, keputusan politik pemilih ditunjukkan dengan menjadi pemilih pasif yang hanya memilih pada saat pelaksanaan pemilu, dan menjadi pemilih aktif yang mengajak pemilih lain untuk memilih caleg pilihan pemilih.
Penelitian Andik juga menemukan bahwa perilaku politik pemilih dibentuk oleh tiga aspek, yaitu sosiologis, ekonomis dan aspek politik. Pada aspek sosiologis, yang ditemukan dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan kedekatan personal caleg dengan pemilih milenial.
Kedekatan personal ditandai dengan adanya interaksi sosial yang tidak hanya bersifat formal pada saat bertemu di kegiatan kampanye dan sosialisasi politik, namun juga pada kegiatan nonformal, seperti silaturrahim ke rumah pemilih atau menghadiri undangan acara keluarga pemilih.
Selain itu juga terkait dengan kedekatan domisili, yaitu pemilih milenial memilih caleg karena ada kedekatan tempat tinggal di antara kedua pihak. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pemilih berharap bila caleg terpilih, banyak program pembangunan dibawa ke daerah tempat tinggal mereka yang sama dengan caleg.
Baca juga: Menko Zulhas minta Banyuwangi berbagi ilmu pertanian milenial dengan daerah lain
Untuk kedekatan referensi, pemilih milenial memilih caleg karena adanya referensi dari keluarga dan orang dekat yang meminta untuk memilih caleg tersebut. Terkait keluarga ini, bisa orang tua, suami dan isteri. Adapun orang dekat, adalah teman yang paling dekat, atau guru, seperti guru spiritual dan guru agama di pesantren yang memiliki kemampuan atau jasa terhadap muridnya.
Selain itu, aspek ekonomis juga membentuk perilaku politik pemilih milenial, yakni pemberian materi dari caleg, seperti sembako dan lainnya. Pemberian ini bisa dalam bentuk barang yang diberikan kepada kelompok pengajian, kelompok pemuda dan kelompok-kelompok lainnya sebagai organisasi bergabung pemilih milenial.
Pemberian dalam bentuk lain adalah dalam bentuk uang. Pemberian khusus dalam bentuk uang adalah pemberian yang dilakukan oleh caleg berdasarkan jumlah pemilih. Jadi setiap pemilih mendapat uang dari caleg.
Secara praktis, menurut Andik, penelitian ini dapat berimplikasi pada praktik politik yang dilakukan oleh kandidat politik, seperti calon anggota legislatif, calon kepala daerah, calon presiden, termasuk juga calon kepala desa yang akan mengikuti kontestasi politik.
"Dalam proses kontestasi, para kandidat politik akan melakukan sosialisasi politik dan kampanye yang akan berinteraksi, berkomunikasi. Secara praktis penelitian ini juga berimplikasi pada kebijakan yang mengatur tentang pelaksanaan pemilihan umum," katanya.
