Seoul, 16/4 (ANTARA/Yonhap-0ANA) - Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak mendesak Korea Utara untuk melepaskan keinginannya mengejar persenjataan rudal dan nuklir, dan membuka diri terhadap dunia luar, katanya Senin. Lee juga mengingatkan bahwa mengakhiri perilaku buruk akan menjamin masa depan yang lebih baik bagi negara komunis yang miskin itu. Imbauan itu terjadi beberapa hari setelah Korea Utara meluncurkan roket jarak jauh Jumat. Meskipun roket itu gagal segera setelah lepas landas, namun peluncuran itu mengundang kecaman kuat internasional karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Resolusi itu melarang Pyongyang dari melakukan tindakan seperti peluncuran roket karena teknologi yang terlibat di dalamnya dapat digunakan untuk mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu membawa senjata nuklir. Korea Utara melakukan uji coba nuklir dua kali di masa lalu dan mengklaim pihaknya adalah negara bersenjata nuklir. "Korea Utara mungkin berpikir itu dapat mengancam dunia dan meningkatkan persatuan internal dengan senjata nuklir serta rudal, tetapi hal ini menempatkan dirinya ke dalam bahaya yang lebih besar," kata Lee dalam pidato radio dwi-mingguannya. "Kami jelas melihat dari sejarah bahwa Uni Soviet runtuh sementara terlibat dalam perlombaan senjata untuk mempertahankan sistem internal." Peluncuran roket pada Jumat diperkirakan menguras biaya Pyongyang sekitar 850 juta dolar AS, dan bagi Korea Utara yang miskin mestinya bisa dibelanjakan untuk membeli 2,5 juta ton jagung, suatu jumlah yang cukup untuk menebus kekurangan pangan di negeri ini selama enam tahun, Lee kata. "Tujuan dari keberadaan suatu negara adalah untuk membuat rakyatnya hidup bahagia dan nyaman," katanya. Lee menekankan bahwa satu-satunya cara bagi Korea Utara untuk bertahan hidup adalah melepaskan program senjata nuklirnya dan bekerja sama dengan masyarakat internasional melalui reformasi dan keterbukaan, mendesak rezim untuk mengikuti jejak negara-negara seperti China, Vietnam dan Myanmar. "Tidak perlu bagi takut bagi Korea Utara untuk berubah. Tidak ada yang mencoba mengancam atau mengubah Korea Utara dengan kekerasan atau paksaan," kata Lee. "Jika Korea Utara mengubah dirinya sendiri, bukan hanya kita, tetapi juga masyarakat internasional, bersama-sama akan bekerja sama dengan Korea Utara," kata Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026