PBB - Para pemantau PBB yang tiba di Suriah menghadapi misi berbahaya karena tidak ada gencatan senjata resmi antara pasukan Presiden Bashar al-Assad dan oposisi, kata para diplomat, Sabtu.
"Tidak ada gencatan senjata begitu juga tidak ada proses politik dimulai, dan ini merupakan satu hal paling sulit bagi misi-misi PBB," kata seorang utusan senior di PBB.
Pemerintah Suriah bertanggung jawab atas keselamatan 30 pemantau militer yang tidak bersenjata yang akan dikirim dalam beberapa hari ke depan, sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyetujui misi itu.
Tetapi dengan serangan-serangan baru saat dewan menyetujui pengiriman para pemantau itu Sabtu, negara-negara Barat menyatakan keraguan mereka bahwa rencana-rencana Bashar untuk menghentikan aksi kekerasan mulai Kamis dapat dipenuhinya.
PBB sering mengirim para pemantau militer ke zona-zona konflik, mereka dikenal luas dalam misi-misi di seluruh dunia sebagai UNM0 (Pemantau militer PBB)-- "mata dan telinga Dewan Keamanan".
Tetapi para pemantau yang dikirim untuk menengahi pasukan India dan Pakistan tahun 1948 melerai pasukan Turkidan Siprus Yunani di Siprus tahun 1974 dan pemberontak Maois dan pasukan Nepal tahun 2006 setelah dilakukan penandatangan perjanjian-perjanjian gencatan senjata. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.