Paris (ANTARA/AFP) - Sejumlah jaksa Prancis hari Senin mendesak sebuah pengadilan menjatuhkan hukuman berat hingga 16 tahun penjara pada enam orang Somalia yang disidangkan di Paris karena menyandera pasangan Prancis di kapal pesiar mereka.
"Kita tidak boleh berkompromi mengenai nasib dan kebebasan warga negara kita," kata jaksa utama Anne Obez-Vosgien kepada pengadilan.
Kesengsaraan hidup di Somalia yang dilanda perang tidak bisa "membenarkan kejahatan", tambah jaksa itu.
Keenam orang Somalia itu, yang berusia antara 21 dan 36 tahun, menghadapi tuduhan-tuduhan pembajakan, penculikan dan perampokan bersenjata, setelah mereka menahan kapal pesiar itu dan dua orang awaknya, Jean-Yves Delanne dan istrinya, Bernadette, yang berusia sekitar 60 tahun, di lepas pantai Somalia pada 2008.
Keenam orang itu ditangkap dan diterbangkan ke Prancis setelah pasukan khusus Prancis menyerbu kapal pesiar The Carre d'As IV dan menyelamatkan pasangan itu. Seorang tersangka ketujuh tewas dalam serangan itu.
Obez-Vosgien meminta pengadilan menjatuhkan hukuman antara 14 dan 16 tahun pada tiga tersangka yang diduga pemimpin jaringan, antara 13 dan 15 tahun pada satu tersangka, delapan tahun pada satu tersangka dan enam tahun pada satu tersangka.
Putusan pengadilan itu, yang menandai pertama kali Prancis mengadili tersangka perompak Somalia, akan disampaikan pada Rabu.
Perompak yang beroperasi di lepas pantai Somalia meningkatkan serangan pembajakan terhadap kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden meski angkatan laut asing digelar di lepas pantai negara Tanduk Afrika itu sejak 2008.
Menurut Ecoterra International, organisasi yang mengawasi kegiatan maritim di kawasan itu, sedikitnya 47 kapal asing dan lebih dari 500 pelaut hingga kini masih ditahan oleh perompak.
Kapal-kapal perang asing berhasil menggagalkan sejumlah pembajakan dan menangkap puluhan perompak, namun serangan masih terus berlangsung.
Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun 2008 saja.
Angka tidak resmi menunjukkan 2009 sebagai tahun paling banyak perompakan di Somalia, dengan lebih dari 200 serangan -- termasuk 68 pembajakan yang berhasil -- dan uang tebusan diyakini melampaui 50 juta dolar.
Kelompok-kelompok bajak laut Somalia, yang beroperasi di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa, memperoleh uang tebusan jutaan dolar dari pembajakan kapal-kapal di Lautan India dan Teluk Aden.
Patroli angkatan laut multinasional di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Eropa dengan Asia melalui Teluk Aden yang ramai tampaknya hanya membuat geng-geng perompak memperluas operasi serangan mereka semakin jauh ke Lautan India.
Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak, menurut Menteri Perikanan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.
Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi perompak yang membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.
Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka.
Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.