Jember (ANTARA) - Wacana penundaan pelaksanaan Pemilu 2024 yang digulirkan sejumlah pimpinan partai politik justru tidak menguntungkan bagi Indonesia, baik dari sektor politik maupun ekonomi, kata pengamat politik Universitas Muhammadiyah Jember Itok Wicaksono.

"Penundaan Pemilu 2024 justru berdampak pada krisis politik dan hukum karena adanya perubahan regulasi yang mengatur pesta demokrasi itu sehingga bisa mempengaruhi stabilitas politik di Indonesia," kata Itok dihubungi ANTARA di Jember, Jawa Timur, Jumat.

Selain itu, ujar Itok, penundaan pemilu juga dapat menyebabkan kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia menurun dan hal tersebut justru tidak menguntungkan pada sektor pertumbuhan ekonomi.

"Stabilitas politik di Indonesia tentu akan berdampak pada sektor perekonomian. Adanya pemilu justru dapat meningkatkan kepercayaan internasional dan menstabilkan ekonomi," ujar mantan anggota KPU Jember itu.

Itok menilai wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden merupakan momentum pemanasan menjelang Pemilu 2024 yang sengaja digulirkan oleh partai politik.

"Pimpinan parpol mencari momentum untuk mewacanakan sejumlah opini jelang Pemilu 2024 dan mencari panggung politik dalam bursa calon presiden, sehingga dapat memunculkan figur capres yang tepat," kata dosen FISIP Unmuh Jember itu.

Wacana penundaan pemilu dan wacana lainnya terkait Pemilu 2024 merupakan kepentingan dan permainan partai politik dalam mencari sosok pemimpin menuju Pilpres 2024, tambah Itok

"Kendati demikian, wajar-wajar saja pimpinan parpol mewacanakan penundaan pemilu, karena menurut saya opini itu sengaja dimunculkan untuk mencari momentum sebagai pemanasan menjelang Pilpres 2024," katanya lagi.

Ia menjelaskan perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilu tentu akan mengubah konstitusi yang berdampak pada stabilitas politik, sehingga tidak sesuai dengan prinsip demokrasi.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengusulkan untuk menunda pelaksanaan Pemilu 2024 dengan alasan untuk mempertahankan momentum pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026