Novak Djokovic termotivasi salip rekor Federer

id Novak Djokovic,Djokovic, Federer, US Open

Novak Djokovic termotivasi salip rekor Federer

Petenis Serbia Novak Djokovic melakukan selebrasi usai menang dari pemain Swiss Henri Laaksonen di putaran kedua Prancis Terbuka, Roland Garros, Paris Prancis (30.5.2019). ANTARA/REUTERS/Benoit Tessier/aa (REUTERS/BENOIT TESSIER)

Segalanya agak berbeda dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu
Jakarta (ANTARA) - Petenis nomor satu dunia yang juga juara bertahan US Open, Novak Djokovic, mengambil inspirasi dari ide bahwa dia bisa melewati Roger Federer sebagai pemegang rekor juara tunggal Grand Slam paling banyak sepanjang masa.

Namun bintang Serbia berusia 32 tahun itu terlebih dahulu harus bekerja sebelum itu terjadi di tengah persiapan merebut gelar berikutnya pada US Open mulai esok Senin (Selasa pagi WIB) di New York.

"Saya sadar itu, pastinya. Maksud saya, saya bagian dari dunia ini. Tentu saja saya tidak bisa sepenuhnya mematikan dan menghilangkan apa yang dibicarakan orang-orang," kata Djokovic seperti dikutip AFP.

Djokovic merasa jalan yang ditempuh masih jauh dan mengakui bahwa menyamai rekor Federer sudah pasti menjadi salah ambisi dan tujuannya.

"Segalanya agak berbeda dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu, tetapi saya tetap merasa muda di dalam dan di luar. Dan saya tetap sangat termotivasi untuk terus, khususnya sekarang, lebih atau kurang segalanya tentang Grand Slam."

Djokovic, yang mengalahkan Federer dalam pertandingan lima set pada final Wimbledon bulan lalu untuk merebut gelar Grand Slam ke-16 yang direbutnya, masih tertinggal empat gelar juara di bawah pencapaian bintang Swiss berumur 38 tahun itu. Terselip di antara mereka ada Rafael Nadal dengan 18 gelar juara Grand Slam.

Tetapi Djokovic lagi panas setelah menjuarai empat dari lima nomor tunggal Grand Slam terakhir, termasuk saat menaklukkan Juan Martin del Potro pada final US Open tahun lalu. Itu adalah juga gelar US Open ketiganya setelah edisi 2011 dan 2015.

Djokovic, yang mengawali US Open tahun ini dengan melawan petenis Spanyol berperingkat 76 dunia, Roberto Carballes Baena, Senin nanti, menceritakan keberhasilannya pada malam sebelum teriakan dukungan dari penggemarnya di Arthur Ashe Stadium membawa dia sukses di New York kala itu.

"Saya jarang kalah pada banyak pertandingan dalam karir saya sewaktu bermain malam hari. Oleh karena itu saya sungguh menikmati atmosfer bisinya yang terjadi di sana," kata dia.

"Kamu hanya perlu menyesuaikan diri dengan hal itu. Kamu beradaptasi dengan itu. Kamu menerimanya. Kamu merangkulnya. Saya merangkulnya karena saya kira itu baik untuk olahraga kita dapat memiliki berbagai atmosfer berbeda di lapangan utama dari empat Slam berbeda."(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar