Buat Keributan, RSUD Soewandhie Surabaya Laporkan Keluarga Pasien ke Polisi

id RSUD Soewandhie laporkan keluarga pasien,Febria Rachmanita,pemkot surabaya,polrestabes surabaya,antaranews jatim

Buat Keributan, RSUD Soewandhie Surabaya Laporkan Keluarga Pasien ke Polisi

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rahmanita (Abdul Hakim) (Abdul Hakim/)

Laporan kami masukan hari ini, untuk selanjutnya dapat diproses oleh rekan-rekan di kepolisian sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku
Surabaya (Antaranews Jatim) - Manajemen RSUD Soewandhie Kota Surabaya melaporkan salah seorang keluarga pasien ke Polrestabes Surabaya atas insiden keributan yang terjadi di Instalasi Gawat Darurat RSUD setempat pada Jumat (15/2) malam. 
     
"Laporan kami masukkan hari ini, untuk selanjutnya dapat diproses oleh rekan-rekan di kepolisian sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku," kata Pelaksana Tugas (Plt) Dirut RSUD dr M Soewandhie, Febria Rachmanita di Surabaya, Sabtu.
     
Menurut dia, pihaknya memiliki bukti sejumlah rekaman CCTV berupa tindakan salah seorang keluarga pasien berinisial W yang membuat keributan dengan berupaya melakulan tindakan anarkis dengan berupaya ingin memukul petugas RSUD.
     
Febria menjelaskan kejadian tersebut berawal dari pasien atas nama Surati masuk ke IGD RSUD dr M Soewandhie pada  Jumat (15/2) siang. Pasien itu langsung mendapat serangkaian penanganan antara lain, pemeriksaan laboratorium, EKG (monitoring rekam jantung), infus, dan foto thorax. 
     
Rangkaian penanganan tersebut, kata dia, memang membutuhkan waktu seperti halnya EKG dimana pasien dimonitor rekam jantungnya. Untuk mendapatkan hasil maksimal, perekaman ritme jantung dilakukan antara satu hingga dua jam, sedangkan tes laboratorium juga memerlukan proses hingga hasilnya dapat diketahui.
     
Di sisi lain, pihak RSUD dr M Soewandhie juga berkoordinasi dengan RSUD Dr. Soetomo untuk persiapan rujukan. Dari koordinasi tersebut, pasien baru bisa dirujuk di atas pukul 18.00 WIB. 
     
Pada pukul 17.00 WIB, perawat sudah berupaya mencari keluarga pasien, baik melalui panggilan melalui speaker hingga mencoba menyisir rumah sakit, mulai bagian depan hingga belakang. Namun, perawat gagal menemukan keluarga pasien.
     
Pada pukul 19.15, W yang merupakan menantu Surati, bersama istrinya datang ke rumah sakit. Perawat mencoba mengingatkan dengan sopan agar keluarga tidak meninggalkan pasien sendirian, sekaligus ingin memberikan penjelasan perihal teknis rujukan ke RSUD Dr. Soetomo.
     
Awalnya, W bersikukuh menyatakan bahwa dirinya tidak meninggalkan rumah sakit. Namun, keterangan W berubah dan mengakui bahwa dia sedang mengisi ulang daya ponselnya ketika sedang dicari petugas. Besar kemungkinan pengisian daya ponsel dilakukan di luar rumah sakit, sebab di dalam rumah sakit tidak tersedia titik pengisian daya.
   
Pada pukul 19.30 WIB, tiba-tiba W tidak bisa mengendalikan emosinya. Pria berkumis tersebut berteriak-teriak memaki perawat dengan kata-kata yang tidak pantas. Ia juga mencatut nama salah satu anggota DPRD Kota Surabaya. 
   
Perawat mencoba meredam emosi W dengan memberikan penjelasan secara sopan. Bukannya mereda, emosi W malah menjadi-jadi dan sempat hendak memukul perawat tersebut. Beruntung aksi tersebut dapat dilerai oleh petugas keamanan di tempat. 
   
Namun saat proses peleraian, sikut W sempat mengenai wajah ketua tim perawat yang coba melerai. Akibat insiden tersebut, pelayanan di IGD RSUD dr M Soewandhie sempat terganggu. 
     
Beberapa pasien yang membawa anak-anak tampak ketakutan dan memilih membawa anaknya menjauh. Oleh karena itu, Febria menegaskan, pihaknya akan membawa hal ini ke ranah hukum. 
     
Menurut Febria, petugas di RSUD dr M Soewandhie selalu memberikan pelayanan terbaik sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pasien maupun keluarganya tidak seharusnya melakukan perbuatan yang mengganggu kenyamanan publik, apalagi ini di rumah sakit, serta ada indikasi kekerasan terhadap petugas. 
     
Selama ini, lanjut dia, pihaknya telah menyediakan sejumlah sarana untuk menyampaikan segala bentuk ketidakpuasan atas pelayanan rumah sakit. Mulai dari SMS, email hingga personal yang dapat dihubungi. 
     
Pengumuman tersebut tertera di banner-banner yang ada di beberapa sudut rumah sakit. Di samping itu, masyarakat juga dapat mengadu ke akun media sosial sapawarga. Laporan tersebut bahkan akan masuk kepada Wali Kota Surabaya, jika tak kunjung ditindaklanjuti oleh dinas terkait.
     
"Buktinya, keluarga pasien yang lain tidak melakukan tindakan serupa. Artinya, pelayanan kami sudah sesuai prosedur dan semua terlayani dengan baik. Semoga, ini bisa menjadi edukasi bagi semua pihak," kata Febria yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya ini.    
     
Ia menambahkan bahwa upaya yang dilakukan juga merupakan bagian dari bentuk perlindungan terhadap para petugas medis yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. (*)
 
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar