Menkominfo: Daripada untuk Menyebar Hoaks, Lebih Baik Sayangi Pulsa

id menkominfo,rudi antara,berita hoaks,surabaya,hpn 2019

Menkominfo: Daripada untuk Menyebar Hoaks, Lebih Baik Sayangi Pulsa

Menkominfo Rudi Antara (kanan) di sela kunjungannya di pameran karya pers dan teknologi informasi dalam rangka HPN 2019 di Grand City Surabaya, Jumat (8/2/2019). (Antarajatim/Fiqih Arfani)

Menerima gambar atau video sudah memotong pulsa kita, apalagi ditambah menyebarkannya, tentu pulsa kita semakin terpotong banyak
Surabaya (Antaranews Jatim) - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meminta masyarakat menyayangi pulsa dan paket data di ponselnya masing-masing, daripada terpotong percuma karena menyebar informasi hoaks.

"Menerima gambar atau video sudah memotong pulsa kita, apalagi ditambah menyebarkannya, tentu pulsa kita semakin terpotong banyak. Makanya sayangi pulsamu," ujarnya di sela menjadi pembicara diskusi tentang hoaks dalam rangka Hari Pers Nasional 2019 di Grand City Surabaya, Jumat. 

Meski jumlah pulsa atau paket data yang terpotong tidak banyak, namun efek yang ditimbulkan akibat tersebarnya berita bohong akan sangat berbahaya, bahkan bisa menimbulkan konflik.

Menkominfo juga menyarankan untuk menyebarkan berita atau informasi yang positif sebagai bentuk perlawanan terhadap berita hoaks.

"Kalau hoaks viral, maka balas dengan viralkan berita-berita positif, khususnya tentang validasi terhadap berita hoaks yang disebarkan," ucapnya.

Kemenkominfo, kata dia, telah bekerja sama dengan sejumlah pihak menyediakan layanan untuk validasi tentang sebuah pemberitaan atau informasi, salah satunya melalui laman stophoax.id.

Selain itu, upaya pemerintah lainnya yakni bekerja sama dengan platform media sosial seperti WhatsApp yang membatasi pesan forward hanya sebanyak lima kali.

Di tempat sama, Direktur Eksekutif Indonesia New Media Watch Agus Sudibyo menyampaikan, untuk menangani hoaks diperlukan tiga pendekatan, yakni struktural, jurnalistik dan kultural.

Ia merinci, pendekatan struktural dilakukan melalui regulasi atau undang-undang dari sejumlah instansi, seperti Kemenkominfo, Polri atau lembaga hukum lainnya.

Kemudian, lanjut dia, pendekatan jurnalistik yaitu wartawan dan pengelola media yang mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar maka tak ikut menyebarkan.

Selanjutnya, pendekatan terakhir adalah kultural, yakni berbasis pada komunitas di masyarakat dengan cara melakukan literasi sekaligus saling mengingatkan agar tidak langsung menyebar informasi yang baru diterimanya.

"Mari sekarang berusaha rileks, santai dan tidak panik jika menerima informasi yang menghebohkan di ponsel kita, sebab kalau reaksioner maka berhasil visi misi dari sang penyebar hoaks," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar