Tiga Komoditas Dorong Inflasi Jatim November 2018

id BPS Jatim, Inflasi Jatim, Jatim November Inflasi

Tiga Komoditas Dorong Inflasi Jatim November 2018

Petani menjemur bawang merah usai dipanen di sentral penghasil bawang merah Desa Sambirejo, Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (18/9). (Antara Jatim/Prasetia Fauzani)

Secara umum, dari hasil pemantauan di 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), rata-rata terjadi kenaikan harga selama November 2018, sehingga mendorong inflasi di Jatim sebesar 0,27 persen
Surabaya (Antaranews Jatim) - Sebanyak tiga dari tujuh komoditas utama mendorong laju inflasi Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada November 2018, yakni bawang merah, angkutan udara, dan beras.

Kepala Badan Pusatt Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono di Surabaya, Senin, mengatakan, bawang merah mengalami kenaikan karena faktor cuaca yang sudah mulai turun hujan di beberapa daerah, sehingga menjadi lebih cepat busuk, akibatnya terjadi kenaikan harganya.

Sedangkan untuk beras, kata Teguh, juga karena cuaca, meski kenaikan itu tidak terjadi pada seluruh jenis beras, dan hanya terjadi di beberapa jenis beras kualitas rendah.

Secara umum, dari hasil pemantauan di 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), rata-rata terjadi kenaikan harga selama November 2018, sehingga mendorong inflasi di Jatim sebesar 0,27 persen.

"Dari tahun ke tahun, inflasi November 2018 lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2017, di mana pada November 2017 hanya mengalami inflasi sebesar 0,23 persen," katanya.

Di Jatim, inflasi tertinggi ada di Kota Kediri yang mencapai 0,40 persen, diikuti Malang sebesar 0,37 persen, Probolinggo sebesar 0,35 persen, Madiun sebesar 0,34 persen, Jember sebesar 0,21 persen, Banyuwangi sebesar 0,26 persen, Sumenep sebesar 0,24 persen, dan Surabaya sebesar 0,21 persen, sedangkan?inflasi terendah terjadi di Surabaya yaitu sebesar 0,21 persen.?

Teguh mengungkapkan, dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami infasi, satu kelompok mengalami deflasi, dan satu kelompok tidak mengalami perubahan, dengan inflasi tertinggi ada di kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan sebesar 0,60 persen.

Kemudian diikuti kelompok Bahan Makanan sebesar 0,37 persen; kelompok Kesehatan sebesar 0,32 persen; kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,18 persen; serta kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,13 persen. Kelompok yang mengalami deflasi yaitu kelompok Sandang sebesar 0,03 persen. Adapun kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak mengalami perubahan.

"Namun dari keseluruhan, masih ada komoditas yang mampu menghambat laju inflasi pada November 2018, yakni untuk kelompok melon, pepaya dan tongkol ambu-ambu. Dan harga-harga komoditas tersebut mayoritas turun," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar