BPS : Penyerapan Lulusan SMK Jatim Kurang Maksimal

id BPS Jatim, lulusan SMK, para lulusan SMK, SMK Jatim

BPS : Penyerapan Lulusan SMK Jatim Kurang Maksimal

Ilustrasi - Pelajar menyemprotkan cat semprot di atas baju seragam sekolah rekannya saat perayaan kelulusan siswa SMA/SMK di Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (3/5). (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

TPT untuk SMK masih mendominasi di antara beberapa tingkat pendidikan lainnya, disusul TPT tertinggi berikutnya lulusan sekolah menengah atas (SMA) sebesar 6,31 persen
Surabaya (Antaranews Jatim) - Penyerapan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Timur masih kurang maksimal, sehingga mendominasi pengangguran di wilayah itu, demikian catatan Badan Pusat Statistika.
     
Kepala BPS Jatim Teguh Pramono di Surabaya, Selasa, mengatakan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jawa Timur pada Agustus 2018 tercatat sebesar 3,99 persen atau mengalami penurunan 0,01 poin dibanding TPT Agustus 2017 sebesar 4,00 persen. 
     
Dari angka itu, TPT untuk SMK masih mendominasi di antara beberapa tingkat pendidikan lainnya, disusul TPT tertinggi berikutnya lulusan sekolah menengah atas (SMA) sebesar 6,31 persen.
     
"TPT adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap pasar kerja. Dengan kata lain, masih terjadi permasalahan titik temu antara tawaran tenaga kerja lulusan SMK/SMA di Jawa Timur dengan tenaga kerja yang diminta di pasar kerja," kata Teguh.
     
Sebaliknya, kata Teguh, TPT terendah adalah untuk pendidikan SD ke bawah sebesar 1,67 persen, karena penduduk dengan pendidikan rendah cenderung menerima tawaran pekerjaan apa saja.
     
Sementara untuk TPT lulusan Universitas dan SD ke bawah mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 1,18 poin dan 0,01 poin. Sedangkan untuk pendidikan yang lain mengalami penurunan.
     
"Berdasarkan tempat tinggal, TPT di perkotaan lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan. Pada Agustus 2018, TPT perkotaan sebesar 4,64 persen, sedangkan TPT perdesaan sebesar 3,31 persen," katanya.
     
Sementara untuk status pekerjaan utama, di Jatim terbanyak sebagai buruh, karyawan dan pegawai sebanyak 34,63 persen, kemudian diikuti berusaha dibantu buruh tidak tetap (18,43 persen), dan berusaha sendiri (16,32 persen).
     
"Penduduk yang bekerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap, memiliki persentase yang paling kecil yaitu sebesar 3,45 persen," kata Teguh.
     
Sedangkan jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Agustus 2018 sebanyak 21,30 juta orang atau naik 0,36 juta orang dibanding Agustus 2017 sejumlah 20,45 juta orang. 
     
"Dibanding tahun lalu, jumlah penduduk bekerja bertambah 0,35 juta orang dan penganggur bertambah 0,01 juta orang," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar