Pemkot Malang Siapkan Pendampingan bagi UMKM

id UMKM,Pendampingan UMKM,pemkot malang dampingi UMKM,UMKM Malang

Pemkot Malang Siapkan Pendampingan bagi UMKM

Ilustrasi - Seorang warga di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Bojonegoro, melayani pembeli kerajinan gerabah tradisional. (Antarajatim/Slamet Agus Sudarmojo)

Malang (Antaranews Jatim) - Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur, menyiapkan langkah pendampingan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dalam upaya meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.

Wali Kota Malang Sutiaji di Malang, Kamis, mengatakan bahwa saat ini dunia industri telah memasuki era industri 4.0, sehingga pelaku UMKM mau tidak mau harus masuk dalam sektor e-dagang.

Pemerintah Kota Malang mencatat setidaknya ada tiga upaya yang perlu didapatkan oleh sektor UMKM.

"Ada tiga komponen yang harus dilakukan, pertama yakni pendampingan masalah keuangan. Kemudian pendampingan produksi, dan terakhir pemasaran," kata Sutiaj, dalam Forum Sosialisasi Belanja dan Jualan Online, Murah, Cepat, dan Aman.

Menurut Sutiaji, memasuki era digital, memang diperlukan pembinaan untuk menghasilkan produk-produk yang mampu bersaing bukan hanya di pasar dalam negeri, namun juga di pasar global. Dengan adanya era digitalisasi, sektor perdagangan saat ini tanpa batas, dimana transaksi perdagangan bisa dilakukan dengan pelanggan dari berbagai negara.

Sutiaji menjelaskan, terkait dengan pendampingan masalah keuangan, UMKM nantinya akan diarahkan supaya mampu melakukan manajemen keuangan yang labih baik. Saat hasil penjualan produk mendapatkan laba, seharusnya laba tersebut dipergunakan untuk menambah kapasitas produksi, bukan untuk belanja konsumtif.

"Saat UMKM mendapatkan laba, biasanya bukan dipergunakan untuk menambah produksi, tapi konsumtif. Pada akhirnya nanti akan tergerus, dan dia akan tertinggal," ujar Sutiaji.

Baca juga: Pemkot Malang Sulap Ramayana jadi Sentra UMKM

Selain itu, pendampingan dari sisi produksi juga akan diberikan oleh Pemerintah Kota Malang kepada UMKM yang ada. Langkah tersebut diambil supaya UMKM mampu menekan biaya produksi, namun tetap menghasilkan produk atau barang yang berkualitas.

Produksi tersebut meliputi kemasan suatu produk. Beberapa catatan bagi produk UMKM, sesungguhnya produk yang dihasilkan telah memiliki kualitas yang baik dan diminati masyarakat. Namun, bagi umumnya bagi para pelanggan, kemasan dari produk hasil buatan UMKM terbilang tidak menarik.

"Kemudian, pendampingan untuk pemasaran. Ini juga termasuk pemasaran yang konvensional juga," ujar Sutiaji.

Namun, pemasaran tersebut tidak serta merta diberikan kepada seluruh UMKM yang ada di Kota Malang, melainkan diperuntukkan bagi UMKM yang masuk kualifikasi. Sementara untuk UMKM yang belum masuk dalam kualifikasi, tetap akan diberikan pendampingan, yang pada akhirnya semua UMKM terwadahi.

"Kami akan menyiapkan mal UMKM, yang kami harapkan akan menjadi display dari karya UMKM. Ini menjadi keharusan, tapi kami tetap melakukan pemasaran konvensional, untuk menguatkan bagaimana UMKM menjadi penyangga ekonomi," ujar Sutiaji.

Pemerintah Kota Malang memiliki rencana untuk merubah Mal Alun-Alun yang selama ini dikelola pihak ketiga, menjadi sentra UMKM. Rencananya, sentra UMKM tersebut akan dikelola secara mandiri oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Keputusan untuk menjadikan Mal Alun-Alun tersebut sebagai sentara UMKM dikarenakan kerja sama dengan pihak ketiga selama kurang lebih 30 tahun dirasa tidak menguntungkan, bahkan merugi. Mal Alun-Alun sendiri, dulunya merupakan Lapas Kelas II yang dipindahkan ke Sukun, Kota Malang pada 1988. (*)

Baca juga: Perkuat Perdagangan Dalam Negeri, Jatim Gandeng "Marketplace"
Baca juga: BCA Ajak UMKM Malang Ciptakan "Satu Peluang Sejuta Kebahagiaan"
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar