Kota Surabaya Masuk Nominasi Guangzhou Award 2018

id Guangzhou award 2018,risma,pemkot surabaya,UCLG,antaranews jatim

Kota Surabaya Masuk Nominasi Guangzhou Award 2018

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada saat menjadi pembicara di empat sesi pra forum dalam kongres bertararaf internasional "United Cities and Local Goverment" (UCLG) Asia Pasific (Aspac) yang digelar di gedung Dyandra Convention Hall Surabaya pada Rabu (12/9). (Abdul Hakim) (Abdul Hakim/)

Saya  selalu menekankan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Surabaya dan warga bahwa penghargaan bukanlah yang utama. 
Surabaya (Antaranews Jatim) - Kota Surabaya terpilih masuk dalam nominasi Guangzhou award 2018 karena adanya sejumlah inisiatif yang dilakukan Pemkot Surabaya dengan melibatkan masyarakat yang kemudian menjadi gerakan sosial.
     
"Ini yang bisa menjadi contoh untuk negara lain," kata Director of Guangzhou Institute for Urban Innovation Nicholas You saat di kongres "United Cities and Local Goverment" (UCLG) Asia Pasific (Aspac) yang digelar di Kota Surabaya, Jatim, Jumat. 
     
Nicholas mencontohkan pembayaran transportasi umum berupa Suroboyo Bus dan bus tingkat yang diberlakukan Pemkot Surabaya dengan menggunakan botol plastik kosong. 
     
Selain itu, lanjut dia, inisiatif pengelolaan limbah di Surabaya telah mendapatkan kepemilikan dan pembelian yang luas, kreatif dan di dasarkan pada model bisnis yang murah serta berkelanjutan secara keuangan. 
     
"Meskipun populasi berkembang, jumlah limbah yang dihasilkan semakin berkurang," katanya. 
     
Lebih lanjut, komitmen yang kuat untuk mengadopsi praktik terbaik dan teknologi internasional dalam menciptakan sistem pengelolaan, pemantauan dan pelaporan limbah yang berkelanjutan secara ekonomi. 
     
"Hal itu yang membuat komite teknis terkesan oleh efektivitas, kreativitas dan inisiatif Kota Surabaya dan itu sudah dibuktikan secara nyata," katanya.
     
Menurut Nicholas, Surabaya sudah layak disebut sebagai kota berkelanjutan. Hal itu dibuktikan dengan sistem pengelolaan limbah partisipatif yang menjadi titik awal bagi Surabaya untuk menjadi kota yang lebih berkelanjutan. 
     
Pengelolaan limbah yang efektif, kata Nicholas, membutuhkan pengurangan konsumsi, peningkatan penggunaan kembali dan daur ulang dan disiplin.
     
"Ini adalah indikator kunci dari perubahan perilaku. Mungkin salah satu bahan terpenting untuk memperkenalkan perubahan di sektor lain seperti transportasi dan mobilitas, energi, keselamatan dan nutrisi," katanya.
     
Nantinya, Indonesia akan bersaing dengan 14 kota untuk mendapatkan Guangzhao award di antaranya, Brusells Belgia, Dangbo Benin, Federal Distric Brazil, Vaudreuil-Dorion Canada, Vancouver Canada, Guangzhou Tiongkok, Nanning Tiongkok, Bogota Colombia, Curridabat Colombia, Senftenberg Germany, Isfahan Iran, Hong Kong Tiongkok, Eliat Israel, Kfar Saba, Israel dan Bologna Italia. 
     
"Kota-kota terpilih akan diundang ke Guangzhou pada awal Desember dan juri akan memutuskan pemenang berdasarkan presentasi serta aplikasi tertulis yang telah diajukan setiap kota," kata Nicholas.
     
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan agenda internasional tersebut rupanya sudah diikuti Surabaya sebanyak tiga kali, namun gagal. Meski demikian, Risma mengaku optimistis keikutsertaan Surabaya keempat kalinya mampu meraih penghargaan tersebut.
     
Risma mengatakan bahwa setiap kali Surabaya mengikuti berbagai macam perlombaan level lokal maupun internasional, dirinya  selalu menekankan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Surabaya dan warga bahwa penghargaan bukanlah yang utama. 
     
"Justru tujuan utama kita adalah mensejahterakan warga Surabaya agar hidup lebih baik ke depannya," ujarnya.
     
Dirinya pun mengakui bahwa sebenarnya hubungan kerja sama antara Kota Surabaya dengan Kota Guangzhou, Tiongkok sudah terjalin sejak lama semenjak dirinya menjabat sebagai Kepala Dinas Bina Program Kota Surabaya pada 2002. (*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar