Damkar Bojonegoro: Penyebab Kebakaran Sebagian Besar karena Listrik

id Damkar Bojonegoro, kebakaran rumah, kebakaran hutan, kebakaran pasar,karhutla bojonegoro, KPH Bojonegoro, antaranews jatim

Damkar Bojonegoro: Penyebab Kebakaran Sebagian Besar karena Listrik

Seorang petugas Damkar Bojonegoro melakukan pembasahan kebakaran rumah di Desa Trojalu, Kecamatan Baureno. (Sukirno/Slamet Agus Sudarmojo.)

Dari 29 kejadian kebakaran rumah termasuk pasar, diantaranya, 14 kejadian kebakaran disebabkan hubungan arus pendek listrik PLN.
Bojonegoro (Antaranews Jatim) - Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan dari 29 kejadian kebakaran pemukiman selama 2018, penyebabnya sebagian besar adalah hubungan arus pendek listrik PLN, selain kompor, elpiji, obat nyamuk dan yang lainnya.

"Dari 29 kejadian kebakaran rumah termasuk pasar, diantaranya, 14 kejadian kebakaran disebabkan hubungan arus pendek listrik PLN," kata Kepala Pemadaman Dinas Damkar Bojonegoro Sukirno, di Bojonegoro, Rabu.

Ia mencontohkan kejadian kebakaran pasar 1 Januari lalu di Desa Balongrejo, Kecamatan Sugihwaras, yang mengakibatkan tujuh toko habis terbakar dengan kerugian mencapai Rp350 juta juga disebabkan hubungan arus pendek listrik PLN.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pencegahan Damkar Achmad Adi Winarno yang menyebutkan bahwa hubungan arus pendek listrik PLN yang mengakibatkan kebakaran, karena kabel warga di pemukiman tidak standar.

"Kalau sudah begitu ya menjadi tanggung jawab semuanya tidak hanya damkar, tapi juga PLN, dan pihak terkait lainnya," ujar Adi menegaskan.

Damkar daerahnya, menurut dia, tidak hanya ikut memadamkan kebakaran di daerahnya, tapi juga ikut membantu memadamkan satu kali kejadian kebakaran rumah dan satu kali kebakaran rumpun bambu di Tuban.

Selain itu juga ikut memadamkan satu kali kebakaran rumah Desa Sukorame, Kecamatan Sukorame, Lamongan, serta kebakaran Plasa di Cepu, Jawa Tengah.

Selain itu, lanjut dia, damkar juga memadamkan dua kali kebakaran lahan tebu milik warga dan dua kali kebakaran hutan jati di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro.

"Kebakaran hutan tidak menimbulkan kerugian. Dalam 29 kejadian kebakaran pemukiman warga termasuk kebakaran pasar dan lahan tebu mengakibatkan kerugian lebih dari Rp2,5 miliar," kata dia menjelaskan.

Yang jelas, menurut Adi, kejadian kebakaran tahun ini lebih sedikit dibandingkan kejadian kebakaran tahun lalu dengan jumlah 80 kali kejadian kebakaran  per Agustus 2017.

"BPBD tetap mengusahakan kejadian kebakaran terus berkurang dengan melakukan berbagai usaha salah satunya membentuk masyarakat peduli api mulai Juli ini," ucapnya.

Sesuai rencana, lanjut dia, BPBD akan mengambil satu warga di setiap desa yang akan memperoleh pelatihan menangani kejadian kebakaran pada awal terjadi.

"Pelatihan akan dipusatkan di tempat tertentu dengan mengundang warga. Harapan kami satu warga itu bisa menyampaikan materi pelatihan terkait kebakaran kepda warga lainnya," ucapnya menjelaskan.

Ia memberikan gambaran bahwa warga akan memperoleh pelatihan cara memadamkan kebakaran pada awal terjadi kebakaran antara lain, dengan cara tradisional, juga teknik mengisolasi api dalam kejadian kebakaran untuk mencegah kebakaran membesar. (*)

 
Pewarta :
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar