Jakarta (Antara) - Gerakan Pemuda Ansor menilai pergerakan kelompok intoleran yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

"Saat ini mereka sudah menyisipkan ideologinya ke buku-buku untuk siswa sekolah bahkan di tingkat kanak-kanak," kata Ketua Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Quomas saat perayaan HUT ke-82 GP Ansor di Jakarta, Minggu.

Dia mengatakan kelompok tersebut dapat memecah-belah negara Indonesia karena mereka memilki agenda besar untuk merebut kekuasaan negara dan mengubah NKRI menjadi negara Islam.

Kemudian, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka meski sesama muslim.

Menghadapi ancaman tersebut, Gerakan Pemuda Ansor melakukan langkah pencegahan dengan melakukan kaderisasi anggotanya.

"Anggota Ansor sebanyak 1,7 juta orang, kita mengkaderisasi mereka untuk tetap kepada Pancasila dan UUD 1945, dan NKRI," kata dia.

Selain itu, GP Ansor juga melakukan penurunan spanduk yang berisi ajakan untuk membentuk negara Islam.

"Kita temukan spanduk untuk mengajak masyarakat mendirikan negara Islam di Rembang, Ansor melakukan penurunan spanduk tersebut yang tentu saja dilakukam dengan koordinasi dengan aparat kemanan," kata dia.

Dia mengatakan spanduk itu juga ditemukan di Cilegon dan Kediri.

GP Ansor mengharapkan peran pemerintah untuk menentaskan kelompok intoleran tersebut karena kelompok-kelompok tersebut legal.

Mengenai buku-buku yang telah beredar di tingkat TK, Ansor juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menertibkan buku-buku itu.

"Buku ituu mengajarkan radikalisme sejak kecil, maka kami berkoordinasi dengan kementerian dan aparat keamanan. Saat ini buku-buku tersebut telah ditemukan di Depok, kia juga curiga buku tersebut ada di tempat lain," kata dia. (*)


Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026