Tukang Foto Amatir "Sura&Baya" yang Terpinggirkan Teknologi

id Surabaya, Sura, Baya, ikonik, KBS, tukang foto

Tukang Foto Amatir

Seorang wisatawan menggunakan jasa tukang foto untuk mengabadikan momen mereka di depan patung ikonik Surabaya, Kamis (27/8). Profesi tukang foto harus berjuang lebih keras seiring dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan pengunjung tempat wis

Foto dengan menggunakan handphone hasilnya tidak sebagus foto yang dihasilkan oleh kamera profesional, apalagi Surabaya kan panas, sehingga cahayanya terlalu kuat, jadi hasil foto dari HP tidak bisa bagus
TUKANG FOTO AMATIR "SURA&BAYA" YANG TERPINGGIRKAN TEKNOLOGI

Oleh Edy M Ya'kub/Nadhirul Maghfiroh

Teriknya sinar matahari dan terpaan polusi udara di tengah Kota Surabaya tak menyurutkan semangat para tukang foto amatir untuk menawarkan jasa mereka kepada para pengunjung.

Tangan kiri mereka memberikan aba-aba pengambilan gambar kepada para konsumen, lalu tangan kanan mereka membidik sasaran tampaknya masih mereka lakoni hingga kini.

Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi, kini para tukang foto amatir itu harus berjuang lebih keras, terlebih dengan pesatnya perkembangan "smartphone" yang telah memiliki fitur kamera dan bisa dibeli dengan harga beragam dan terjangkau.

Salah satu sudut perjuangan tukang foto amatir ada di area ikonik Surabaya yaitu patung pertarungan "sura" (ikan hiu) dan "baya" (buaya) di depan Kebun Binatang Surabaya.

Sebelum teknologi "smartphone" berkembang seperti saat ini, tukang foto menjadi pilihan mayoritas pengunjung untuk mengabadikan momen mereka di depan patung ikonik Surabaya itu.

Kini, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa permintaan konsumen akan jasa mereka tidak sebanyak dulu.

"Pada hari-hari biasa dan bukan akhir pekan, biasanya, saya memperoleh tiga sampai sepuluh konsumen, bahkan kalau akhir pekan biasanya sampai 30 konsumen," ucap seorang tukang foto, Ycobus Dicky Hezkia.

Hari libur dan tanggal merah menjadi ladang rezeki yang ditunggu-tunggu oleh para tukang foto yang menjadikan patung ikonik Surabaya sebagai pangkalannya.

Dengan harga yang dibanderol Rp10.000 hingga Rp20.000 tiap fotonya, ia bisa mengantongi hingga Rp300.000 pada akhir pekan.

Jumlah pengunjung yang tinggi pada akhir pekan dan hari libur juga mengundang datangnya tukang foto lain untuk menjual jasa memotret mereka.

"Kalau akhir pekan biasanya sampai 50 orang fotografer di sini," ujar Dicky.

Beberapa tukang foto menjalani profesi ini sebagai hobi dan pekerjaan sampingan dari pekerjaan utama mereka yang salah satunya adalah sebagai karyawan pabrik.

Mereka meluangkan waktu santai seusai bekerja atau saat hari libur untuk mencari rezeki dari memotret.

Kendati permintaan menurun karena banyaknya pengunjung yang membawa kamera pribadi, tetapi permintaan akan foto masih selalu ada.

"Kalau foto lewat kamera pribadi itu tidak bisa foto secara rame-rame sehingga biasanya yang ingin foto rame-rame masih menggunakan jasa foto kami," tuturnya.

Tak hanya itu, tukang foto lain Adi yang sudah 2,5 tahun membantu para pengunjung mengabadikan momen-momen berharga mereka, mengatakan bahwa foto yang mereka hasilkan memiliki beberapa kelebihan.

"Foto dengan menggunakan handphone hasilnya tidak sebagus foto yang dihasilkan oleh kamera profesional, apalagi Surabaya kan panas, sehingga cahayanya terlalu kuat, jadi hasil foto dari HP tidak bisa bagus," ujarnya.

Satu lagi, hasil foto para amatir juga memiliki kelebihan berupa foto yang langsung jadi dan bisa dipilih sesuai keinginan setelah pengambilan gambar usai dilakukan.

Apalagi, patung yang menjadi lambang kota Surabaya ini memiliki sebuah sejarah di balik wujudnya.

Ikonik itu melambangkan pertarungan antara sura (hiu) dan baya (buaya) dalam memperebutkan daerah kekuasaan mereka. Cerita pertarungan sengit ini begitu membekas di hati masyarakat Surabaya, sehingga dibangunlah patung tersebut sebagai simbol kota, simbol semangat, simbol perjuangan.

Namun, dalam laman Wikipedia, ada juga yang berpendapat Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat, sedangkan Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti selamat dari bahaya.

Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa. Seharusnya yang dihukum adalah Kertanegara, karena Kertanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar. Setelah mengalahkan Jayakatwang orang-orang Tar-Tar merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke Tiongkok.

Raden Wijaya tidak terima, lalu menyerang tentara Tar-Tar di Pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya ini ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.

Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus bergolak. Tanggal 10 Nopember 1945 adalah bukti jatidiri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda.

Karenanya, jika berkunjung ke Kota Pahlawan tanpa berfoto di patung ikonik yang berlokasi di depan Kebun Binatang Surabaya itu rasanya tak lengkap.

Apalagi, lokasi patung ikonik itu pun mudah dijangkau, karena berada di tengah Kota Surabaya yang dari Terminal Purabaya, Bungurasih, Surabaya, Jawa Timur, bisa ditempuh dengan naik bis kota tujuan terminal angkutan kota, Joyoboyo. Setelah itu, tinggal berjalan kaki sekitar 200 meter menuju arah pusat kota.

Kelengkapan patung Sura dan Baya yang melengkapi identifikasi Surabaya itu pula yang menjadi salah satu alasan para tukang foto amatir menjadikan lokasi ini sebagai ladang rezeki mereka, meski ikonik serupa masih ada satu lagi di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel). (*)
Pewarta :
Editor: Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar