Ngawi Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Sistem Salibu

id Ngawi Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Sistem Salibu, Petrokimia Dukung Pengembangan Sistem Salibu di Ngawi, PT Petrokimia Gresik, pupuk Petrokimia gresik, sistem salibu, Salibu Ngawi, penanaman sistem salibu di ngawi, pemkab ngawi, swasembada pangan, salibu untuk swasembada pangan, kabupaten ngawi, padi ngawi

Ngawi Tingkatkan Produktivitas Padi dengan Sistem Salibu

Dirut PT Petrokimia Gresik bersama Muspida Ngawi melakukan panen raya padi sistem Salibu di Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Ngawi, Sabtu (6/6). (Sistem Salibu)

    Ngawi (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Jawa Timur, berupaya meningkatkan produktivitas padi di wilayah setempat dengan sistem penanaman secara Salibu atau Salin Ibu.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, Kabupaten Ngawi, Marsudi, Sabtu, mengatakan teknologi penanaman padi dengan sistem Salibu itu baru diterapkan di wilayah Ngawi pada tahun 2015.

"Daerah yang sudah mencoba menanam padi dengan sistem Salibu adalah Kecamatan Gerih seluas 35 hektare dan Kecamatan Widodaren seluas 1 hektare," ujar Marsudi saat acara panen raya padi dengan sistem Salibu di Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi.

Menurut dia, Salibu atau Salin Ibu merupakan sistem budi daya penanaman padi yang dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.

Pada sistem tersebut, padi yang sudah dipanen, dibiarkan bertunas kembali dan dipelihara sampai panen kembali.

Adapun, tujuan dari sistem Salibu adalah untuk meningkatkan indeks pertanaman yang disebabkan oleh waktu tanam yang pendek dan hasil yang lebih banyak.

Berdasarkan pengalaman sejumlah kelompok tani di Kecamatan Gerih yang mengembangkan sistem Salibu, pada panen pertama dengan sistem tanam konvensional diperoleh hasil padi sekitar 6,5 ton per hektare, lalu pada penanaman tahap kedua dengan sistem Salibu diperoleh hasil bervariasi dari 6,5 ton hingga 6,9 ton per hektare.

"Waktu tanam juga lebih pendek dari sistem tanam padi secara konvensional, yakni maju dua minggu untuk masa panennya," kata Marsudi.

Ia menjelaskan, selain memiliki waktu tanam yang lebih pendek, sistem Salibu juga mampu menghemat biaya operasional penanaman yang dikeluarkan petani.

"Hal ini karena petani tidak lagi memerlukan benih baru dan tidak melalu proses persemaian, pengolahan lahan atau bajak, dan penanaman. Penghematan biaya budi daya dari penerapan sistem Salibu mencapai Rp5 juta per musim tanam," kata dia.

Dengan kondisi yang demikian, dipastikan dapat mendukung produktivitas padi di Kabupaten Ngawi guna mendukung program swasembada pangan yang ditargetkan pemerintah tiga tahun ke depan.

"Ke depan, kami berupaya untuk menerapkan sistem Salibu ke seluruh petani di Kabupaten Ngawi. Selain hemat biaya, serangan hama yang ada juga dapat ditekan," katanya.

Bahkan, Ngawi saat ini menjadi daerah tujuan studi banding pemda lainnya untuk pengembangan sistem Salibu.

Adapun, target produksi padi tahun 2015 di Kabupaten Ngawi mencapai 825.000 ton gabah kering panen (GKP). Dengan sistem Salibu, pihaknya optimistis target tersebut dapat terlampaui. (*)
Pewarta :
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar