Kepala Bidang Perancangan dan Pemanfaatan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya Ganjar Siswo Pramono di Surabaya, Jumat, mengatakan hingga kini belum ada kesepakatan harga antara pemkot dengan pemilik tanah di sana.
"Ada 15 persil tanah milik warga yang belum bisa dibebaskan. Mereka meminta harga tinggi, sedangkan kami berdasarkan tim appraisal," katanya.
Disinggung berapa harga tanah yang diminta warga, Ganjar mengatakan secara detail tidak ingat. Namun harga yang dipatok warga itu sangat tinggi sehingga membuat pemkot belum bisa membebaskannya.
Pembebasan tanah yang dilakukan, lanjut dia, terutama sisi timur jalan menuju Stadion GBT, baik dari arah Romokalisari, maupun dari arah Sumberejo, sedangkan pelebaran jalan itu dengan lebar 6 meter.
"Harapan kami dengan pembebasan ini bisa berjalan mulus, maka pelebaran bisa dilaksanakan tahun ini. Dengan demikian, akses menuju GBT tidak sempit lagi sehingga kendaraan ketika berpapasan, bisa lancar. Selama ini ketika kendaraan berpapasan, salah satu harus mengalah biar tidak senggolan atau tabrakan," jelasnya.
Menurut informasi yang dihimpun Antara, Pemkot Surabaya sendiri mematok harga Rp2,8 juta per meter, sedang pemilik tanah menghendaki pemkot membayar Rp4 juta. Warga beralasan harga yang ditetapkan pemkot tersebut pada 2013, sedangkan seiring dengan perjalanan waktu harga tanah terus melambung.
Ganjar sendiri mengatakan pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan warga. "Target kami, pembebasan bisa segera tuntas. Sebab, pelebaran akses di GBT ini sangat urgent," jelasnya.
Sementara itu, akses jalan menuju GBT sendiri, ada beberapa titik yang sempit karena pembebasan lahan belum tuntas. Kondisi ini memicu kerawanan kecelakaan lalu lintas.
Maka untuk menghindari hal tersebut, ketika ada kendaraan berpapasan dari arah berlawanan, salah satu kendaraan harus mengalah dengan berhenti di pinggir jalan guna memberikan kesempatan bagi kendaraan lain untuk lewat.
"Sempitnya akses jalan menuju ke GBT ini sudah lama. Makanya, kalau ada kendaraan berlawanan arah, salah satu harus mengalah. Kondisi ini diperparah jika hujan lebat atau kai lamong meluap, jalanan akan banjir," kata Suwarno, warga Jawar, yang lokasinya dekat GBT. (*)
Pewarta: Abdul HakimEditor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.