Tripoli, (Antara/Xinhua-OANA) - Lebih dari 15 orang tewas dan 10 lagi cedera dalam bentrokan pada Sabtu (14/3) antara pasukan Kongres Nasional Umum (GNC) dan petempur Negara Islam (IS) di Kota Sirte, Libya Barat, kata satu sumber militer. "Bentrokan masih berkecamuk. IS kehilangan banyak anggota," kata Jenderal Mohamed Al-Ajtal, Komandan Operasi Gabungan Pasukan GNC, kepada Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. "Bentrokan berlangsung sengit di Daerah At-Tahir dan Hrawa. Pasukan kami menghancurkan sejumlah kendaraan militer IS, menewaskan 15 orang dan melukai lima orang lagi," kata satu sumber militer Batalion Infantri Ke-166 GNC. Pasukan GNC tersebut, yang terdiri atas kelompok Islam bersenjata, belum lama ini telah berusaha meraih kekuasaan atas Sirte, kota yang terletak 450 kilometer di sebelah timur Ibu Kota Libya, Tripoli. Libya telah menyaksikan peningkatan kerusuhan secara drastis sejak kerusuhan 2011, yang menggulingkan pemimpin negeri tersebut Muammar Gaddafi. Gerilyawan dan anggota milisi pro-sekuler telah bersaing dalam memperebutkan kota besar dan kecil selama berbulan-bulan, sehingga membuat kerusuhan keamanan di negara Afrika Utara itu. Pada Kamis (12/3),Menteri Luar Negeri Tunisia Tayeb Baccouche, yang sedang berkunjung ke Aljazair, mengatakan meningkatnya kerusuhan dan tak-adanya negara di Libya memaksa Aljazair dan Tunisia memikul "tanggung jawab moral" buat rakyat Libya. Beberapa kelompok yang berafiliasi pada IS telah memanfaatkan keadaan dan merebut beberapa kota besar seperti Sirte dan Derna. Aljazair dan Tunisia, kata Baccouche, "memiliki tanggung jawab moral" untuk membantu rakyat Libya mengatasi krisis. "Kami memiliki tanggung jawab moral ke arah saudara kami, rakyat Libya, sebab keamanan Aljazair dan Tunisia adalah keamanan Libya," kata Baccouche dalam taklibat bersama dengan timpalannya dari Aljazair, Ramtane Lamamra, di Aljiers, Ibu Kota Aljazair. Karena Libya bergumul dengan dua pemerintah, Lamamra menegaskan negaranya "mengakui negara, bukan pemerintah". Dialog antar-rakyat Libya yang ditaja PBB diselenggarakan pada Selasa (10/3) dan Rabu di Aljiers, dalam upaya mengakhiri perang saudara empat-tahun di Libya. Selama dialog dua-hari tersebut, 20 pegiat dan pemimpin politik mensahkan Deklarasi Aljiers --yang kembali menegaskan komitmen untuk menghormati proses politik di Libya berdasarkan pengalihan kekuasaan politik secara damai yang demokratis. Peserta dialog itu juga menyampaikan keprihatinan mereka sehubungan dengan memburuknya situasi keamanan di Libya dan meningkatnya aksi teror. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026