Perjalanan Korea Selatan menjadi negara maju dan modern seperti saat ini bukan terjadi dalam proses yang singkat. Negeri Ginseng itu juga mengalami masa-masa masyarakatnya berbudaya agraris dengan pola hidup dan hubungan sosial yang sangat tradisional. Kehidupan tradisional masyarakat Korea Selatan itu dapat disaksikan di kawasan "Folk Village" yang dirancang sebagai tempat wisata pedesaan atau kampung rakyat. Kampung "masa lalu" Korea seluas sekitar 99 hektare itu terletak sekitar 55 kilometer selatan Kota Seoul. Mendatangi lokasi ini, kita akan tahu bagaimana perbedaan pola kekeluargaan masyarakat Korea tradisional masa lalu dan masa kini. Saat bersamaan, kita juga akan tahu bagaimana modernisasi tidak mengubah beberapa tradisi masyarakat di negeri produsen mobil dan telepon seluler itu. Masuk ke pelataran pertama di kawasan hijau itu, pengunjung akan disambut dengan tumpukan gentong-gentong yang biasa digunakan masyarakat Korea masa lalu untuk menyimpan air dan lainnya. Di sekitar tempat itu digantung beberapa lampu lampion yang dibungkus kain biru dan merah. Pemandu wisata di Folk Village, Bai-mi Sook, mengatakan dua warna itu melambangkan filosofi yang dipegang kuat warga Korea mengenai keseimbangan dalam hidup. Menuju ke arah lebih dalam, kita disuguhi suasana dapur untuk memasak sup kesukaan warga Korea. Ada sejumlah wajan/kuali berukuran besar yang disusun di dapur terbuka itu. Wajan hitam itu diletakkan di atas tungku yang di sebelahnya terdapat toko souvenir khas Korea. Berjalan serong sedikit ke arah kiri, pengunjung akan menemukan batu besar berdiri dan satunya lebih besar lagi karena disusun dari sejumlah batu kecil. Gundukan batu besar itu diikat dengan tali. Di Tali itu terdapat lipatan kertas yang diikatkan. Itu adalah batu harapan. Pengunjung yang percaya dapat menulis harapan masa depannya di kertas yang telah disediakan. Kertas itu kemudian diikatkan di sekeliling batu. Setelah batu harapan, ada patung kayu dengan model sederhana dan kemudian ada alat "modern" masa lalu berupa penggilingan untuk padi-padian yang digerakkan oleh manusia atau hewan dengan cara berputar. Pola kerjanya, batu besar berbentuk roda itu akan menggilas padi-padian saat digerakkan. Ada juga alat penggiling ukuran kecil yang digerakkan dengan tangan. Alat ini sama dengan yang digunakan masyarakat tradisional di Indonesia di tahun 1970-an. Dua batu hitam berbentuk roda digerakkan dengan cara diputar, jagung yang dimasukkan akan hancur dan halus. Di tempat lain ada alat penumbuk padi dari kayu yang digerakkan dengan pola keseimbangan. Ujung satu ditekan, maka ujung kayu yang ditempeli penumbuk akan terangkat. Saat tekanan dilepas, maka penumbuk akan jatuh mengenai padi. Untuk rumah-rumah tradisional cukup banyak di kawasan yang sering digunakan sebagai lokasi syuting film drama Korea, termasuk Jang Geum yang populer menjadi tontonan masyarakat di Indonesia itu. Setidaknya ada rumah untuk kalangan masyarakat biasa, menengah (profesional) dan kalangan bangsawan. Rumah-rumah itu ada yang ditampilkan sesuai aslinya, ada juga yang berupa model. Ciri khas dari rumah tradisional itu adalah berhalaman luas. Hal ini cukup logis karena masih tersedianya lahan yang luas. Korea Kini Kondisi itu berbeda dengan Korea kini. Korea saat ini dengan lahan terbatas lebih memilih pola bangunan ke atas, sementara yang kosong dimanfaatkan untuk penghijauan dengan pepohonan. Kini, sangat sulit menemukan bangunan di kota besar di Korea yang tidak bertingkat. Demikian dengan bangunan yang jarang menyisakan untuk halaman. Halaman yang ada biasanya untuk kantor yang memerlukan lahan parkir mobil. Di masa lalu, atap rumah masyarakat Korea tidak berbeda dengan di Indonesia. Menggunakan ilalang kering. Hanya saja model bangunannya cenderung pendek dan rumahnya berkaki. Mirip bangunan langgar yang populer di kalangan masyarakat di Madura. Bai-me Sook menjelaskan bahwa bangunan tradisional di Korea Selatan memiliki konsep yang bisa menyesuaikan dengan kondisi alam negerinya yang memiliki masa musim salju. Dengan pola tertentu, rumah itu akan membuat penghuninya merasa hangat di musim salju. Ia juga mengemukakan bahwa dalam rumah tradisional dihuni oleh tiga generasi dengan penempatan yang terpola pula. Orang tua di tempat lain, anak di tempat tertentu. Demikian juga dengan cucu. Kondisi ini berbeda dengan saat ini dimana dalam satu rumah hanya ditempati satu atau maksimal dua generasi. Ketika anak sudah menikah, mereka akan berpisah dengan orang tuanya. Maka yang tinggal hanya satu generasi. "Itu kecenderungan yang terjadi Korea saat ini," kata Ji Hyuk Kim, seorang warga. Di tengah modernitas Korea, keberadaan peramal nasib masih ada. Ini yang tampaknya masih lestari di Korea. Sejumlah masyarakat Korea, seperti diakui Ji Hyuk Kim masih percaya akan hal itu. Terutama untuk keperluan anak sekolah, perkawinan atau keperluan bisnis. Ya, perpaduan modern dan klasik yang berjalan seiring. Bertolak belakang, tapi tak berbenturan. Di Folk Village, peramal nasib itu seorang ibu setengah baya yang menempati sebuah bangunan tak terlalu besar. Saat itu seorang pengunjung asal luar Korea mencoba ramalan tersebut. Karenanya harus menggunakan penerjemah. Untuk diramal pengunjung mengeluarkan uang 20.000 Won. Memasuki kawasan kelas sosial yang lebih tinggi, seperti rumah pejabat. bangunanya lebih luas. Di halaman bangunan itu terdapat perangkat hukum kekuasaan di masa lalu. Ada alat dari kayu untuk menghukum warga yang salah, seperti kayu mirip salib. Seorang pesakitan akan diikat dengan tengkurap, lalu dipukul. Sebelah kiri "istana" itu terdapat penjara. Model penjara masa lalu dengan pengamanan serba kayu. Di dalam penjara, seorang pesakitan juga masih diikat dengan kayu pada tangan, leher dan kaki. Di penjara itu pengunjung dapat mencoba diri menjadi pesakitan. Biasanya untuk foto-foto dokumentasi pribadi. Sistem hukum seperti itu juga melambangkan perjalanan sejarah Korea menuju modern saat ini. Hukuman yang di masa lalu merupakan otoritas penguasa, saat ini sudah berbeda. Penghukumannya juga akan berbeda. Di rumah kalangan bangsawan itu, disajikan prosesi perkawinan tradisional Korea. Prosesi itu menjadi tontonan menarik bahkan seusai prosesi, pengunjung tertarik untuk berfoto bersama dengan model pengantin. Untuk berfoto, di lokasi itu ada model tokoh utama dalam drama Jang Geum yang wajahnya dilubangi. Pengunjung dapat berfoto dengan cara bersembunyi di belakang tokoh berpakaian khas Korea itu dan hanya menampakkan wajah. Di bagian depan akan ke samping kiri atau bersebelahan dengan kolam, terdapat arena pertunjukan atraktif. Saat itu menampilkan keterampilan laki dan perempuan muda Korea menunggang kuda. Atraksi itu sangat menarik karena menampilkan keterampilan akrobatik para penunggangnya. Penunggang kuda berjumpalitan di atas pelana saat kuda belari kencang mengelilingi arena. Kadang kepala diletakkan di bawah. Kadang telentang menyilang dengan badan kuda, sementara tangannya bertepuk. Sebuah tontonan menarik yang sering mendapat tepuk tangan para pengunjung. Atraksi lain adalah menunggang kuda sambil berdiri memegang tombak. Menunggang kuda sambil memanah. Atau dua kuda ditunggangi tiga orang. Satu orang berdiri di atas dua penunggang lainnya. Masih banyak yang bisa disaksikan tentang perjalanan Korea Selatan di "Folk Village" itu.(*)
Berita Terkait
Pasar rakyat kampung tenun ikat
21 Desember 2019 22:36
Atraksi Kuda Pikat Pengunjung Kampung Rakyat Korea
13 September 2013 17:44
Pakar: Eco-Museum Konsep Pelestarian Kampung ala Surabaya
21 Oktober 2012 07:41
Wisatawan Padati "Namsangol Hanok Village" Libur Chuseok
19 September 2013 16:37
Korut kecam Korsel atas penyusupan drone pengintai
10 Januari 2026 14:30
Presiden Korsel tegaskan prinsip satu China jelang bertemu Xi Jinping
3 Januari 2026 16:15
Korsel perpanjang pembebasan biaya visa untuk 6 negara, termasuk Indonesia
31 Desember 2025 16:24
Korsel buka akses publik ke media Korea Utara
30 Desember 2025 22:00
