Belajar dari dunia, lalu membawa manfaatnya pulang ke Indonesia

Surabaya (ANTARA) - Dinas Pendidikan Jawa Timur mendorong siswa menguasai kecerdasan buatan (AI) secara bijak dengan tetap mengandalkan kemampuan berpikir mandiri, terutama dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan.

“Seorang pemimpin harus memiliki pemikirannya sendiri. Harus berdasarkan checking data dan telaah,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai dalam Seminar Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara di SMAN Taruna Angkasa Madiun, seperti keterangan, Sabtu.

Aries mengatakan perkembangan AI menghadirkan tantangan baru bagi generasi Z, selain derasnya arus informasi, algoritma, disinformasi, polarisasi, dan tuntutan kompetensi global.

Menurut dia, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan siswa, bukan menggantikan proses berpikir dalam mengambil keputusan.

“Wawasan kebangsaan bukan sekadar hafalan. Tapi cara kita memandang Indonesia sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.

Aries mengatakan siswa sekolah taruna perlu menguasai teknologi terbaru, bahasa internasional, menggunakan AI secara bijak, serta membangun jejaring global.

“Belajar dari dunia, lalu membawa manfaatnya pulang ke Indonesia,” katanya.

Ia menyebut tiga kemampuan kepemimpinan yang perlu dibangun sejak dini, yakni memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, dan memimpin perubahan.

Selain penguasaan teknologi, Aries menyebut kemampuan berpikir analitis, ketahanan dan fleksibilitas, kepemimpinan, berpikir kreatif, literasi teknologi, empati, serta kemauan belajar sepanjang hayat menjadi bekal penting menghadapi dunia kerja.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia Direktorat Jenderal Potensi Ketahanan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Raden Yoga Raharja mengatakan pemuda menjadi kekuatan strategis bangsa dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

“Pemuda adalah kekuatan strategis bangsa yang akan menentukan masa depan pertahanan negara,” ujarnya.

Yoga mengatakan ancaman pertahanan kini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup serangan siber, disinformasi, radikalisme, narkoba, krisis lingkungan, hingga ketimpangan sosial.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026