Kriya keramik masih menjadi bagian yang mewarnai perkembangan seni rupa di Tanah Air

Surabaya (ANTARA) - Berbagai jenis kriya keramik dengan jenama Lumosh Living bukanlah buatan Cina. 

"Juga bukan buatan Jepang," kata pemilik Lumosh Living Angelina Ariesta di Surabaya, sebagaimana juga tertulis dalam situs web resminya, Kamis.  

Merek keramik yang kerap dijumpai pada peranti makan, seperti piring, gelas kopi, mug hingga mangkok ini adalah produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang berpusat di Jalan Ngagel Jaya Selatan Surabaya.

Rintisannya diawali dari usaha keluarga Paulus sejak tahun 1992 di Probolinggo, Jawa Timur.

Putri Paulus, Angeline Ariesta, kemudian mengembangkannya di tahun 2016 dengan mengibarkan jenama Lumosh Living. 

"Saya mendirikan brand sendiri. Dengan begitu bisa lebih leluasa menuangkan desain dan kreasi kriya keramik sesuai keinginan saya sendiri untuk ditawarkan ke pasar," ujarnya. 

Demi mengembangkan usahanya, Angeline mengajak dua temannya yang ketika itu baru saja lulus kuliah jenjang Strata 2, yaitu Florencia Dewi Marcelina dan Raymond Tjiadi.

Mulailah muda-mudi ini menjalankan bisnis kriya keramik secara modern, meninggalkan cara konvensional sebagaimana dulu dirintis oleh keluarga Paulus. 

Memproduksi berbagai produk kriya keramik dengan ragam bentuk yang dirasa sudah sangat artistik sangatlah mudah bagi ketiga muda-mudi ini. Tapi untuk menjualnya ternyata susahnya minta ampun. 

"Orang-orang melihat karya-karya kriya keramik kami. Mereka menyukainya tapi hanya sebatas sebagai produk yang unik," kenang Florencia Dewi Marcelina.
 
Bahkan hingga usahanya berjalan selama dua tahun, penjualan produk-produk kriya keramik Lumosh Living terbilang lesu. 

"Dalam hati kami bertanya-tanya, kenapa orang-orang tidak membeli padahal mereka mengaku menyukainya," ujar Dewi.   

Ketiganya kemudian duduk satu meja untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. 

Berbagai faktor dievaluasi, mulai dari material pada produk-produk kriya keramik yang telah dilempar ke pasar, masing-masing fungsinya, desain, hingga harganya. 

"Kami pun menyadari bahwa merek kriya keramik Lumosh Living benar-benar baru di pasaran. Tidak ada konsumen yang percaya dengan kehadiran merek baru. Mereka tidak atau belum familiar dengan produk-produk dan desain keramik kami. Mereka belum percaya dengan merek kami," ucap Dewi. 

Bahkan yang lebih menyakitkan, orang-orang mengira produk-produk kriya keramik Lumosh Living merupakan barang-barang impor dari Cina dan Jepang.  


Tantangan pasar

Dari evaluasi tersebut, Angelina Ariesta, Florencia Dewi Marcelina dan Raymond Tjiadi sepakat untuk terlebih dulu fokus mengenalkan produk-produk kriya keramik Lumosh Living kepada masyarakat, yaitu dengan cara mengikuti berbagai event pameran.

Di antaranya mengikuti pameran Jakarta Coffee Week pada 2017. Kemudian mengikuti pameran Inacraft di Jakarta pada 2018. 

Dari mengikuti dua pameran besar di Tanah Air itu, produk-produk kriya keramik Lumosh Living mulai dikenal masyarakat. 

Bahkan pada 2019, Lumosh Living diundang sebagai salah satu wakil Indonesia untuk mengikuti pameran Coffee Show di Korea. 

Namun tantangan pasar kemudian datang ketika pandemi COVID-19 melanda dunia yang dampaknya turut memporakporandakan perekonomian global. 

Nyatanya pandemi kemudian merubah sistem pasar dari jual-beli offline atau luring menjadi daring (online) melalui layanan digital yang dikelola oleh lokapasar (marketplace).

Perubahan sistem pasar yang menandai dimulainya era digital ini langsung dibaca oleh Lumosh Living dengan menggandeng salah satu perusahaan lokapasar.

UMKM Lumosh Living yang bepusat di Surabaya ini kemudian segera menitipkan produk-produknya di gudang pintar Tokopedia demi menjangkau wilayah-wilayah dengan permintaan tinggi.

Tokopedia pernah merilis, sepanjang pandemi COVID-19, hingga kuartal III 2022, telah melayani penjualan daring yang meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dibanding sebelum masa pandemi. 

Diakui Raymond Tjiadi, berkat Tokopedia, Lumosh Living justru mengalami kenaikan omzet hampir dua kali lipat selama pandemi COVID-19. 

"Penjualan digital yang dilayani Tokopedia juga membantu Lumosh Living menjangkau lebih banyak pembeli, termasuk dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Selatan," katanya.  

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri berbincang COO Lumosh Living Florencia Dewi Marcelina saat meninjau produk kerajinan keramik buatan tangan di Surabaya pada 6 September 2026. ANTARA/Moch Asim

 

Fasilitas Pemerintah

Pascapandemi, Lumosh Living berupaya mengembangkan pasar ke luar negeri dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan pemerintah. 
 
Di antaranya dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Perindustriaan, seperti workshop dan seminar untuk para pelaku usaha. 

Pada 2025 lalu, Lumosh Living memamerkan produknya di Trade Expo Indonesia yang berlangsung di Jakarta. Pameran yang digelar rutin oleh Kementerian Perdagangan ini menghadirkan jaringan pembeli dari berbagai negara.

Hasilnya, Lumosh Living sukses menembus pasar ekspor hingga ke negara Belanda, Jepang dan Korea.

Tahun ini, Lumosh Living untuk kedua kalinya akan kembali mengikuti pameran Trade Expo Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di Tangerang, Banten, pada 14 hingga 18 Oktober mendatang. 

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menyemangati tiga muda-mudi yang memotori usaha kriya keramik Lumosh Living dengan berkunjung ke ruang displainya di Surabaya pada 6 September lalu.  

"Saya optimistis pasar ekspor kriya keramik bisa diperluas ke negara-negara di kawasan Asia dan Eropa lainnya," katanya, yang disambut senyum terkembang oleh Angelina Ariesta, Florencia Dewi Marcelina dan Raymond Tjiadi.

Wamendag Roro memastikan pemerintah selalu hadir untuk menjadi mediator antara pelaku usaha dengan potensi pembeli di luar negeri. 

Dicontohkan, Trade Expo Indonesia yang digelar Kementerian Perdagangan tahun lalu mampu mendatangkan 8.045 pembeli dari luar negeri, dengan total transaksi untuk keseluruhan produk yang dipamerkan mencapai 22 miliar dolar Amerika Serikat. 

"Kita juga memiliki sebanyak 46 perwakilan perdagangan, serta 19 pusat promosi perdagangan Indonesia (ITPC) di luar negeri yang selalu siap membantu promosi.  

Produk-produk kriya keramik Lumosh Living di antaranya saat ini turut dipamerkan di rak displai ITPC Jeddah, Arab Saudi.

Sementara itu, kurator seni Asmudjo Jono Irianto, saat dikonfirmasi, menilai kriya keramik masih menjadi bagian yang mewarnai perkembangan seni rupa di Tanah Air.

"Karenanya banyak karya kriya keramik yang turut kami pamerkan di pameran seni rupa ArtSubs 2026 di Surabaya," katanya.

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu terlibat sebagai kurator pameran seni rupa kontemporer ArtSubs yang dipusatkan di Surabaya sejak penyelenggaraan pertama di tahun 2024.  

Pameran ArtSubs 2026 saat ini masih berlangsung di Surabaya sejak 19 September lalu yang dijadwalkan hingga 8 November mendatang. 

Pameran yang menghadirkan karya-karya dari seratus lebih  seniman asal berbagai wilayah Indonesia di setiap penyelenggaraannya melalui proses kurasi itu mencerminkan perkembangan seni rupa kontemporer terkini di Tanah Air, yang di dalamnya selalu menghadirkan karya-karya kriya keramik. 

"Karya keramik dalam pameran kontemporer ArtSubs 2026 hadir sebagai bagian dari eksplorasi medium tradisional yang didorong melampaui batas konvensional sesuai tema tahun ini, yaitu Border, Threshold & Beyond," ucap Asmudjo. 



Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026