Nantinya akan dikembangkan lagi, termasuk bagaimana pola kemitraan yang dibangun

Surabaya (ANTARA) - Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memuji kegiatan panen melon SMKN 1 Tulungagung sebagai bukti pengembangan vokasi pertanian berbasis teknologi yang produktif dan bernilai ekonomi.

“Menurut saya ini adalah proses yang sangat luar biasa yang bisa dicontoh oleh SMK-SMK kita yang punya jurusan pertanian. Nantinya akan dikembangkan lagi, termasuk bagaimana pola kemitraan yang dibangun,” kata Aries saat menghadiri SEMESTA Harvest Day 2026, seperti keterangan diterima di Surabaya, Senin.

Ia mengatakan pembelajaran di SMK tidak cukup berhenti pada praktik, tetapi harus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Panen tersebut merupakan hasil budidaya Melon Inthanon di rumah kaca seluas 949 meter persegi dengan sistem Nutrient Film Technique (NFT) atau hidroponik yang terintegrasi dengan AutoGrow System.

Kapasitas rumah kaca mencapai sekitar 2.350 tanaman dengan hasil panen perdana sekitar 3,5 ton. Melalui AutoGrow System, siswa dapat memantau kelembapan dan kondisi tanaman menggunakan telepon seluler.

“Dulu masih banyak lahan yang kosong. Sekarang dikembangkan, sehingga kelihatan hasilnya. Itu kenapa saya datang ke sana, karena saya ingin menyaksikan perubahan yang dilakukan SMK tersebut,” ujarnya.


Aries menilai pengembangan tersebut juga membekali siswa dengan keterampilan kewirausahaan karena hasil panen mulai dipasarkan melalui mitra dan dikembangkan secara mandiri oleh sekolah.

“Saya sanjung mereka karena mereka sudah siap betul menjadi petani kreatif dan petani yang berwirausaha. Mereka tidak hanya di pertanian, tetapi juga di perkebunan dan perikanan,” ujar Aries.

Kepala SMKN 1 Tulungagung Ning Fadlillah mengatakan pengembangan pembelajaran berbasis komoditas diperkuat melalui program SIKAP dan kemitraan dengan dunia industri, salah satunya Vertindo Semarang.

“Anak-anak tidak hanya menanam. Mereka juga mengecek melalui handphone dengan sistem AutoGrow, memantau kelembapan dan memastikan tingkat kemanisan melon,” kata Ning.

Ia mengatakan melon dapat dipanen sekitar 65-70 hari setelah tanam (HST), kemudian menjalani pengecekan kualitas sebelum dipasarkan. Pada tahap awal, hasil panen dipasarkan melalui mitra, sedangkan sekolah mulai mengembangkan pemasaran secara mandiri.

“Dari mitra industri kami diajari. Teknisi juga mengajari secara langsung, dan anak-anak kami juga PKL di Vertindo,” ujarnya.

Selain melon, SMKN 1 Tulungagung mengembangkan kelas peminatan komoditas dan kewirausahaan, antara lain budidaya ayam petelur, ayam kampung, sapi, domba, serta ayam broiler dengan sistem closed house.

Khusus kelas budidaya melon, terdapat 32 siswa dari Konsentrasi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH).

Model pembelajaran tersebut diarahkan agar siswa mampu merancang, mengelola, mengembangkan hingga memasarkan produk pertanian.

“Harapannya, kami menjadi laboratorium hidup. Anak-anak semakin lincah dan terpacu dalam pertanian modern,” kata Ning.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026