Pemerintah harus memastikan siapa melakukan apa, di mana titik evakuasinya, bagaimana jalur evakuasinya, berapa kesiapan logistiknya, dan seberapa cepat masyarakat bisa mendapatkan bantuan ketika kondisi memburuk.
Surabaya (ANTARA) - Fraksi PDI Perjuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRDJawa Timur meminta Pemerintah Provinsi memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana dengan menyusun peta risiko dan skenario penanganan multi-bencana.
“Pemerintah harus memastikan siapa melakukan apa, di mana titik evakuasinya, bagaimana jalur evakuasinya, berapa kesiapan logistiknya, dan seberapa cepat masyarakat bisa mendapatkan bantuan ketika kondisi memburuk,” ujar Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Wara Sundari Renny Pramana di Surabaya, Senin.
Dia mengatakan meningkatnya aktivitas vulkanik sejumlah gunung api, termasuk Gunung Semeru, harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memastikan kesiapan penanganan di lapangan.
Gunung Semeru tercatat mengalami erupsi pada Minggu (6/9) pukul 07.51 WIB dengan durasi 102 detik dan amplitudo maksimum 23 milimeter.
Renny menilai ancaman bencana di Jatim tidak hanya berasal dari aktivitas vulkanik. Kekeringan telah melanda 24 kabupaten/kota, sedangkan kebakaran hutan dan lahan sepanjang musim kemarau 2026 mencapai 3.834,35 hektare.
Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak menangani setiap ancaman secara terpisah, tetapi membangun koordinasi lintas sektor dengan skenario yang terintegrasi.
Menurut dia, kawasan yang memiliki lebih dari satu potensi bencana harus menjadi prioritas dalam distribusi personel, peralatan, air bersih, layanan kesehatan, dan logistik.
Selain itu, data jumlah warga berisiko, kapasitas tempat pengungsian, kebutuhan pangan dan air, serta jalur evakuasi perlu diperbarui secara berkala.
Bendahara DPD PDI Perjuangan Jatim itu juga mendorong penguatan sistem peringatan dini hingga tingkat desa.
“Informasi harus sampai ke warga dalam bentuk yang sederhana dan bisa langsung ditindaklanjuti. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan ketika sirene berbunyi atau ketika status gunung berubah,” katanya.
Pewarta: Faizal FalakkiEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.