Surabaya (ANTARA) - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) tengah menanti kedatangan kapal induknya yang pertama. Kapal induk tersebut diperoleh melalui skema hibah dari Pemerintah Italia.
Kapal dengan nama lambung Giuseppe Garibaldi diperkirakan akan tiba di Indonesia pada September ini. Setibanya di Indonesia, kapal tersebut rencananya akan langsung berganti bendera dari Italia menjadi bendera Indonesia dan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.
Dilansir dari ANTARA, kapal tersebut telah bertolak dari Italia pada 24 Agustus 2026. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal akan menempuh perjalanan lebih dari 20 hari melalui Terusan Suez dan Laut Merah dengan pengawalan sejumlah fregat Italia.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk yang dibangun di galangan Cantieri Navali di Monfalcone, Italia. Berdasarkan data resmi Angkatan Laut Italia, kapal ini mulai dibangun pada 20 Februari 1978 dan diluncurkan pada 4 Juni 1983. Dengan demikian, kapal tersebut saat ini telah berusia 43 tahun sejak mulai dioperasikan atau hampir setengah abad.
Kapal tersebut memiliki panjang 180,2 meter. Lebarnya mencapai 23,4 meter pada bagian garis air dan 30,4 meter pada dek penerbangan. Sementara itu, panjang dek penerbangannya mencapai 173,8 meter. Dari sisi bobot, Giuseppe Garibaldi tercatat memiliki perpindahan sekitar 13.850 ton serta sarat air 6,7 meter.
Dengan memiliki kapal induk untuk pertama kalinya, bangsa Indonesia pantas berbangga. Sebab, di Asia hanya beberapa negara yang tercatat memiliki kapal induk. Setidaknya terdapat lima negara di Asia yang tercatat memiliki kapal induk.
Yakni India dengan INS Vikrant dan INS Vikramaditya, China dengan Liaoning, Shandong, dan Fujian, Jepang yang mengubah dua kapal helikopter menjadi kapal induk untuk F-35B, serta Thailand dengan HTMS Chakri Naruebet. Indonesia pun menjadi negara kelima atau negara ASEAN kedua yang memiliki kapal induk.
Apalagi Indonesia merupakan negara maritim. Luas lautnya melebihi luas daratan serta memiliki lima pulau besar utama yang dihubungkan dengan pulau-pulau kecil. Diperkirakan Indonesia terdiri atas 30 persen daratan dan 70 persen lautan. Kondisi tersebut dapat dilihat dari panjang garis pantai Indonesia yang mencapai sekitar 81 ribu kilometer.
Meskipun pantas berbangga, penerimaan kapal tersebut tetap harus disertai sejumlah catatan. Sebab, kapal ini merupakan kapal bekas dari Angkatan Laut Italia, tidak lahir dari "rahim" galangan kapal Indonesia, sehingga dapat disebut sebagai kapal "naturalisasi".
Dalam pasar alutsista, ada sebuah rahasia umum bahwa senjata yang dijual bukanlah "KW 1". Sebab, "KW 1" biasanya akan disimpan oleh penciptanya sendiri, sedangkan yang diedarkan adalah kualitas lanjutan atau yang kesekian.
Apalagi Giuseppe Garibaldi telah puluhan tahun dioperasikan oleh Angkatan Laut Italia. Nantinya, harus dibuktikan bahwa kapal tersebut tidak lagi "bergantung" pada pemilik lamanya. Angkatan Laut Indonesia harus mampu mengoperasikannya secara mandiri dan terlepas sepenuhnya dari ketergantungan terhadap pihak sebelumnya.
Terutama, kapal harus mampu menjaga kerahasiaan keberadaannya apabila sedang menjalani operasi resmi. Dalam operasi perang, keberadaan kapal induk tentu harus dirahasiakan dari radar lawan maupun musuh.
Sebab, keberadaan kapal induk merupakan gambaran besar dari sebuah operasi militer yang tidak hanya berlangsung di laut. Kapal induk juga terkadang membawa pasukan untuk perang darat maupun pesawat tempur dari Angkatan Udara.
Contohnya adalah Navy SEAL Amerika Serikat. Mereka begitu berhati-hati dalam merahasiakan keberadaan kapal induknya, meskipun negara tersebut memiliki 11 kapal induk.
Terutama ketika sedang berperang dengan Iran saat ini. Para awak kapal yang berada di dalamnya tidak boleh sembarangan menggunakan alat komunikasi. Sebab, sebuah kesalahan kecil saja dikhawatirkan dapat menjadikan kapal sasaran empuk rudal Iran yang memiliki daya jelajah tinggi.
Keberhasilan operasi juga sangat bergantung pada keberhasilan kamuflase kapal. Hal tersebut pernah dibuktikan oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II.
Salah satu kapal induk mereka yang bernama Akagi mampu "luput" dari pengawasan intelijen Amerika Serikat. Hal itu kemudian berdampak pada keberhasilan penyerangan Pangkalan Laut Militer Pearl Harbor setelah puluhan pesawat tempur berhasil lepas landas ketika matahari baru terbit.
Untuk operasionalnya, Giuseppe Garibaldi memiliki kapasitas awak hingga sekitar 825 personel. Angka tersebut tercantum dalam spesifikasi resmi Marina Militare Italia.
Sebagai warga negara Indonesia yang baik dan cinta Tanah Air, saya berharap keberadaan KRI Gajah Mada nantinya mampu membawa dampak positif bagi bangsa.
Salam: Jalasveva Jayamahe, karena di lautlah justru kita jaya.
*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana S2 Wawasan Pertahanan Nasional Universitas Brawijaya dan Ketua Bidang Pemberitaan LTN PCNU Kota Surabaya
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.