Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono PhD optimistis pimpinan baru Bank Indonesia (BI) dapat memperkuat institusi bank sentral karena memiliki rekam jejak panjang dalam kebijakan ekonomi dan moneter.

Destry Damayanti resmi dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI), kemudian Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI dengan masa periode 2026-2031.

"Dengan terpilihnya Destry Damayanti dan penetapannya sebagai Gubernur BI merupakan langkah yang memberikan sinyal positif terhadap kesinambungan kebijakan bank sentral," kata Adhitya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jember, Jawa Timur, Kamis.

Menurut dia, Destry bukan sosok baru di lingkungan BI karena sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, sehingga memiliki pemahaman yang kuat terhadap dinamika moneter dan sistem keuangan.

"Yang paling penting ke depan adalah bagaimana BI tetap menjaga kredibilitasnya dalam menjalankan mandat utama, yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah, inflasi, dan memastikan stabilitas sistem keuangan," katanya.

Apalagi dalam kondisi global yang masih tidak menentu, kesinambungan kebijakan menjadi faktor penting bagi kepercayaan pasar.

Ia mengatakan bahwa tantangan BI periode mendatang tidak ringan. Bank sentral harus mampu menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi pada saat yang sama tetap mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Ruang kebijakan BI ke depan perlu diarahkan pada keseimbangan antara menjaga stabilitas dan memastikan likuiditas tetap mendukung sektor produktif," tuturnya.

Itu menjadi penting karena tekanan global, perubahan arah kebijakan bank sentral dunia, serta dinamika harga komoditas masih menjadi faktor yang dapat mempengaruhi ekonomi domestik.

Dia menilai bahwa kombinasi pengalaman Destry, Aida, dan Solikin menjadi modal penting memperkuat institusi BI karena ketiganya memiliki rekam jejak panjang dalam kebijakan ekonomi dan moneter di Indonesia.

"Aida memiliki pengalaman dalam bidang kebijakan ekonomi dan transformasi kelembagaan, sementara Solikin memiliki pengalaman akademik dan kebijakan di bidang ekonomi moneter," ucap akademisi ini.

Adhitya mengatakan bahwa kombinasi itu menjadi modal penting agar BI tidak hanya kuat dalam menjaga stabilitas, tetapi juga semakin responsif terhadap perubahan struktural ekonomi seperti digitalisasi, pendalaman pasar keuangan, dan transformasi ekonomi nasional.

"Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya terkait instrumen kebijakan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara koordinasi dengan pemerintah dan independensi bank sentral," ujarnya.

Bank Indonesia memang memiliki peran dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi kredibilitas BI tetap sangat bergantung pada kemampuannya menjaga keputusan kebijakan berbasis data dan kepentingan stabilitas jangka panjang.

"Kepemimpinan baru BI perlu memperkuat komunikasi kebijakan agar publik dan pasar memahami arah kebijakan yang ditempuh," katanya

Dengan demikian, keberhasilan kepemimpinan BI periode ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga kepercayaan pasar dan memastikan kebijakan moneter tetap kredibel di tengah perubahan ekonomi global.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026