Jakarta (ANTARA) - Pendidikan sering dipahami terutama sebagai kegiatan yang berlangsung di ruang kelas, pada waktu yang telah dijadwalkan, dengan guru mengajar dan murid belajar. Ketika bel pulang berbunyi, pembelajaran pun dianggap selesai. Padahal, pembentukan manusia tidak mengenal bel masuk dan bel pulang.

Dalam perspektif ini, pesantren menawarkan sesuatu yang menarik untuk direnungkan dalam transformasi pendidikan Indonesia. Pesantren bukan hanya tempat santri mengikuti pembelajaran formal. Pesantren membangun sebuah lingkungan kehidupan yang memungkinkan pendidikan berlangsung sepanjang hari.

Santri belajar melalui sekolah atau madrasah, mengikuti pengajian dan berbagai kegiatan terstruktur, serta belajar melalui kehidupan sehari-hari di asrama dan masyarakat.

Pesantren dengan demikian dapat dipandang sebagai ekosistem pendidikan holistik yang mengintegrasikan pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi berlangsung melalui pembelajaran, pengasuhan, pembiasaan, keteladanan, interaksi sosial, dan pengalaman hidup.

Pendidikan pesantren memperoleh relevansi baru dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) tentang pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, melalui pengembangan peserta didik secara holistik dan terpadu. Di dalamnya terdapat olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.

Pertemuan antara pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam menjadi menarik karena keduanya sama-sama melihat pendidikan bukan sekadar sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi sebagai proses membentuk manusia secara utuh.

Memuliakan

Filosofi pembelajaran mendalam berangkat dari gagasan memuliakan. Dalam konteks pesantren, gagasan tersebut dapat dipahami melalui tiga unsur utama: memuliakan santri, memuliakan ustaz, dan memuliakan ilmu.

Santri bukan sekadar objek yang menerima materi pelajaran. Santri adalah manusia yang memiliki martabat, potensi, pengalaman, kebutuhan, dan masa depan. Pendidikan, karena itu, harus memberi ruang kepada santri untuk tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kesadaran, kemampuan berpikir, kreativitas, kemandirian, serta tanggung jawab.

Ustaz pun bukan sekadar penyampai bahan ajar. Mereka adalah pendidik, pembimbing, teladan, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Hubungan ustaz dan santri idealnya bukan hanya hubungan antara pengajar dan yang diajar, melainkan hubungan pendidikan yang dibangun atas dasar penghormatan dan tanggung jawab.

Demikian pula ilmu. Ilmu tidak seharusnya berhenti sebagai bahan ujian, angka rapor, atau alat memperoleh ijazah. Ilmu perlu dipahami, diamalkan, direfleksikan, dan digunakan untuk kemaslahatan.

Di sinilah terdapat titik temu filosofis yang kuat. Pembelajaran mendalam menempatkan manusia dan ilmu dalam hubungan pendidikan yang bermartabat. Tradisi pesantren, dengan penghormatan terhadap santri, ustaz, kiai, dan ilmu, memiliki modal budaya yang sangat relevan untuk menghidupkan filosofi tersebut.

Lingkungan pembelajaran

Keunikan pesantren semakin tampak jika dilihat dari konsep lingkungan pembelajaran. Dalam Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam, pembelajaran tidak hanya bergantung pada apa yang terjadi di dalam kelas. Kerangka tersebut mencakup praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital.

Pesantren mempunyai lingkungan pembelajaran yang melampaui ruang kelas. Santri bangun pagi, beribadah, belajar, makan bersama, membersihkan lingkungan, berolahraga, berorganisasi, berkomunikasi, mengikuti kegiatan sosial, menyelesaikan persoalan bersama, dan beristirahat dalam satu lingkungan pendidikan.

Oleh karena itu, istilah pesantren 24 jam tidak seharusnya semata-mata dipahami sebagai panjangnya waktu kegiatan santri. Makna yang lebih penting adalah bahwa kehidupan pesantren dapat menjadi bagian dari lingkungan pembelajaran yang berlangsung secara berkesinambungan.

Akan tetapi, kehidupan selama 24 jam tidak otomatis menjadi pembelajaran mendalam. Banyaknya kegiatan belum tentu menghasilkan kedalaman belajar. Hal yang menentukan adalah apakah pengalaman tersebut diolah secara pedagogis sehingga santri memperoleh kesempatan untuk memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Dengan demikian, kehidupan pesantren dapat menjadi sumber pengalaman belajar yang sangat kaya apabila dirancang dan dikelola secara sadar.

Dari memahami ke merefleksi

Pembelajaran mendalam menempatkan pengalaman belajar dalam proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Prinsip ini sangat relevan dengan pendidikan holistik pesantren. Mempelajari fikih, misalnya, tidak berhenti pada mengetahui dan menghafalkan hukum. Santri dapat memahami prinsipnya, mengaplikasikannya dalam kehidupan, kemudian merefleksikan pengalaman tersebut.

Belajar kebersihan tidak cukup melalui penjelasan di kelas. Santri dapat mempraktikkannya dalam kehidupan asrama. Belajar kepemimpinan menjadi lebih bermakna ketika santri memimpin organisasi.

Belajar komunikasi menjadi lebih mendalam ketika digunakan dalam diskusi, pidato, dakwah, presentasi, dan interaksi sosial. Belajar kewirausahaan menjadi lebih nyata ketika diwujudkan dalam kegiatan produktif.

Dengan demikian, pengetahuan bergerak dari apa yang diketahui menuju apa yang dilakukan, kemudian menuju apa yang dipahami dari pengalaman tersebut. Inilah salah satu ciri pembelajaran yang mendalam: pengetahuan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kompetensi, kebiasaan, sikap, dan refleksi.

Tiga prinsip

Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam juga menempatkan tiga prinsip penting: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Berkesadaran berarti santri mengetahui apa yang dipelajari, mengapa ia mempelajarinya, dan bagaimana ia dapat belajar secara efektif. Santri tidak hanya menjadi penerima pembelajaran, tetapi juga pembelajar yang aktif.

Bermakna berarti apa yang dipelajari memiliki hubungan dengan kehidupan. Pesantren memiliki peluang besar untuk menghadirkan makna tersebut karena pembelajaran dan kehidupan berlangsung dalam lingkungan yang relatif menyatu.

Menggembirakan bukan berarti pembelajaran harus selalu berupa hiburan. Maknanya adalah terciptanya pengalaman belajar yang positif, aman, menarik, menantang, dan membuat peserta didik merasa dihargai.

Ketiga prinsip tersebut menjadi semakin kuat apabila diterapkan tidak hanya dalam beberapa jam pelajaran, tetapi dalam keseluruhan ekosistem pendidikan.

Delapan dimensi

Hubungan antara pendidikan holistik pesantren dan pembelajaran mendalam semakin jelas ketika dilihat dari tujuan akhirnya. Kemdikdasmen menetapkan 8 Dimensi Profil Lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Kedelapan dimensi tersebut bukan delapan mata pelajaran yang harus diajarkan secara terpisah. Kedelapannya merupakan gambaran tentang manusia utuh yang hendak diwujudkan melalui pendidikan.

Pesantren memiliki banyak pengalaman kehidupan yang dapat diarahkan untuk mengembangkan kedelapan dimensi tersebut. Keimanan dan ketakwaan tumbuh melalui ibadah, kajian keagamaan, keteladanan, dan pembiasaan akhlak.

Kewargaan berkembang melalui kehidupan bersama, tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap masyarakat, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Penalaran kritis dapat dikembangkan melalui kajian, diskusi, pemecahan masalah, dan tradisi intelektual seperti bahtsul masail.

Kreativitas dapat dikembangkan melalui seni, literasi, teknologi, kewirausahaan, penelitian, dan berbagai karya santri. Kolaborasi tumbuh melalui kerja kelompok, organisasi santri, kegiatan sosial, dan kehidupan komunitas. Kemandirian dibentuk melalui pengelolaan diri, disiplin waktu, tanggung jawab pribadi, dan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.

Sementara kesehatan tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi dibangun melalui kebersihan, olahraga, pola hidup sehat, dan keseimbangan kehidupan. Komunikasi dikembangkan melalui penggunaan bahasa, diskusi, pidato, dakwah, presentasi, dan interaksi sosial. Dengan demikian, kedelapan dimensi tersebut dapat tumbuh melalui keseluruhan kehidupan pendidikan, bukan hanya melalui pembelajaran mata pelajaran tertentu.

Saling menguatkan

Jika dikaitkan secara lebih sistematis dengan Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam, pendidikan holistik pesantren dapat dibaca melalui hubungan empat lapis. Pertama, praktik pedagogis. Ustaz perlu merancang pengalaman belajar yang mendorong santri aktif memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Kedua, pengalaman belajar. Kehidupan pesantren menyediakan pengalaman yang luas, bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di masjid, asrama, organisasi, lingkungan sosial, dan berbagai kegiatan produktif.

Ketiga, prinsip pembelajaran. Seluruh pengalaman tersebut diarahkan agar berlangsung secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Keempat, 8 Dimensi Profil Lulusan. Seluruh proses akhirnya diarahkan untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, memiliki kesadaran kewargaan, mampu bernalar kritis dan kreatif, mampu berkolaborasi, mandiri, sehat, dan komunikatif.

Manusia utuh

Dengan perspektif ini, pendidikan holistik pesantren bukan sekadar pendidikan yang berlangsung lebih lama. Hal yang lebih penting adalah kesatuan antara belajar, mengalami, melakukan, membiasakan, meneladankan, dan merefleksikan. Namun, ada batas yang perlu ditegaskan.

Tidak tepat mengatakan bahwa pesantren otomatis telah menerapkan pembelajaran mendalam hanya karena santri tinggal di asrama dan menjalani kegiatan selama 24 jam. Begitu pula sekolah nonpesantren tidak otomatis gagal menerapkan pembelajaran mendalam hanya karena pembelajarannya berlangsung pada jam sekolah.

Pembelajaran mendalam tetap memerlukan kualitas pedagogis. Lingkungan pendidikan harus mendukung. Guru dan murid perlu membangun kemitraan pembelajaran. Teknologi digital harus dimanfaatkan secara tepat. Hal yang paling penting, setiap pengalaman belajar harus diarahkan pada proses yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan serta menghasilkan perubahan yang lebih mendalam pada diri peserta didik.

Dengan kata lain, pesantren memiliki modal ekologis yang kuat, tetapi modal tersebut harus diolah menjadi pembelajaran yang mendalam.

Belajar dari pesantren

Pertanyaan pentingnya bukan apakah sekolah harus menjadi pesantren. Tentu tidak. Hal yang perlu dipelajari adalah apa yang dapat diberikan pengalaman pesantren kepada transformasi pendidikan Indonesia.

Selama ini, pendidikan terlalu sering diukur melalui jumlah jam pelajaran, banyaknya materi, nilai ujian, dan capaian akademik. Semua itu penting, tetapi tidak cukup untuk membentuk manusia seutuhnya.

Pesantren mengingatkan kita bahwa kehidupan dapat menjadi ruang pendidikan. Pembelajaran mendalam mengingatkan kita bahwa pendidikan harus memuliakan murid, guru, dan ilmu, serta mengembangkan manusia secara holistik.

Keduanya bertemu pada satu gagasan fundamental: pendidikan bukan sekadar membuat seseorang mengetahui sesuatu, tetapi membantu seseorang menjadi manusia yang lebih utuh. Oleh karena itu, pendidikan holistik pesantren dapat menjadi salah satu sumber inspirasi bagi implementasi pembelajaran mendalam di Indonesia.

Bukan untuk menyeragamkan sekolah dengan pesantren, melainkan untuk belajar dari sebuah ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran formal, nonformal, dan informal dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya ditanyakan dengan, "berapa banyak yang telah diajarkan?", tetapi juga dengan pertanyaan yang lebih mendasar: "manusia seperti apa yang terbentuk melalui pendidikan itu?"

Jika pendidikan mampu memuliakan santri, ustaz, dan ilmu; jika pengalaman belajar membuat peserta didik memahami, mengaplikasi, dan merefleksi; dan jika seluruh proses tersebut menumbuhkan delapan dimensi profil lulusan, maka pendidikan tidak lagi sekadar berlangsung selama 24 jam. Pendidikan telah menjadi bagian dari kehidupan.


*) Prof Ali Saukah, dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, anggota Dewan Pendidikan Nasional

 



Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026