pencegahan stunting tidak dapat dibebankan kepada sektor kesehatan saja.

Sidoarjo (ANTARA) - Ketika berbicara tentang stunting, perhatian kita sering langsung tertuju pada ibu hamil, bayi, dan balita. Pemantauan pertumbuhan diperkuat, makanan tambahan diberikan, dan keluarga dengan balita berisiko mendapat pendampingan. Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang perlu diajukan: apakah pencegahan stunting baru harus dimulai ketika seorang perempuan sudah hamil atau ketika seorang anak telah lahir?

Stunting merupakan hasil dari proses panjang yang dapat bermula jauh sebelum kehamilan. Kondisi gizi, anemia, pola makan, dan kesehatan reproduksi remaja ikut menentukan kesiapan seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Sebuah systematic review dalam jurnal Nutrition menunjukkan adanya hubungan antara anemia maternal dengan gangguan pertumbuhan linier dan stunting pada anak. Sementara itu, meta-analisis dalam Maternal & Child Nutrition menunjukkan bahwa kehamilan pada usia remaja berkaitan dengan risiko masalah gizi yang lebih tinggi pada anak. Temuan tersebut memperkuat pentingnya investasi kesehatan sejak masa remaja, bukan hanya ketika kehamilan telah terjadi.

Pengalaman pendampingan di Desa Balungtawun, Kabupaten Lamongan, memberikan gambaran yang relevan. Data awal menunjukkan sekitar 35% remaja putri yang diperiksa mengalami anemia dan sekitar 20% remaja tergolong gizi kurang. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa akar persoalan kesehatan generasi berikutnya dapat ditemukan sejak fase remaja.

Karena itu, Posyandu Remaja seharusnya tidak ditempatkan hanya sebagai kegiatan pelengkap. Posyandu Remaja dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali risiko lebih awal sekaligus membangun kebiasaan menjaga kesehatan. Di Balungtawun, jumlah remaja yang terlibat meningkat dari 30 menjadi 42 orang atau sekitar 40%. Evaluasi terhadap 29 remaja juga menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari 12,10 menjadi 12,45 dari skor maksimal 15, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik. Edukasi yang semula berfokus pada gizi, anemia, dan stunting kemudian diperluas pada kesehatan reproduksi.

Namun, meningkatkan pengetahuan saja tidak cukup. Data kesehatan harus dapat digunakan untuk menentukan tindakan. Selama ini, salah satu tantangan pelayanan berbasis masyarakat adalah banyaknya hasil pemeriksaan yang berhenti sebagai catatan. Berat badan ditimbang, tinggi badan diukur, kadar hemoglobin diperiksa, tetapi informasi tersebut belum selalu mudah digunakan untuk melihat perkembangan kesehatan seseorang dari waktu ke waktu.

Digitalisasi dapat membantu menjawab persoalan tersebut. Melalui Aplikasi Kohort Remaja, hasil pemeriksaan seperti berat badan, tinggi badan, IMT, LILA, hemoglobin, dan kategori risiko mulai dicatat secara digital. Kader dan bidan dapat memantau data, sementara remaja dapat melihat informasi kesehatannya sendiri. Kajian sistematis dalam PLOS ONE mengenai pemanfaatan teknologi seluler oleh tenaga kesehatan komunitas juga menunjukkan bahwa teknologi digital berpotensi membantu pengumpulan data, edukasi, monitoring, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, nilai sebuah aplikasi kesehatan bukan terletak pada banyaknya fitur, tetapi pada kemampuannya mengubah data menjadi tindakan.

Meski demikian, pencegahan stunting tidak dapat dibebankan kepada sektor kesehatan saja. Kita dapat meminta keluarga mengonsumsi makanan bergizi, tetapi anjuran tersebut sulit diwujudkan bila pangan bergizi tidak tersedia atau tidak terjangkau. Karena itu, kesehatan remaja perlu berjalan bersama dengan ketahanan pangan keluarga.

Di Balungtawun, pendekatan tersebut dikembangkan melalui Kebun Gizi, pengolahan pangan lokal, dan Pasar Gizi. Kebun Gizi berkembang dari 6 menjadi 30 rumah. Bahan pangan lokal juga mulai dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti moringa stik, lumpia moringa, bikang telang, kue putu kelor, risol, donat, dan olahan umbi. Tiga produk berbasis mangga juga mulai dikembangkan. Kajian sistematis dalam BMC Public Health menunjukkan bahwa keterlibatan dalam kebun komunitas cenderung berkaitan dengan peningkatan konsumsi buah dan sayur serta sejumlah manfaat sosial. Namun, membagikan bibit saja tentu tidak cukup. Kebun harus disertai edukasi, pemanfaatan hasil panen, dan perubahan perilaku konsumsi keluarga.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah pemberdayaan ekonomi perempuan. Pangan lokal akan lebih mungkin bertahan sebagai gerakan masyarakat apabila juga memiliki nilai ekonomi. Karena itu, PKK tidak cukup hanya menjadi peserta pelatihan memasak. Anggotanya perlu mampu memproduksi, mengemas, memasarkan, mencatat transaksi, dan membaca kecenderungan pasar.

Pada Agustus 2026, sistem penjualan PKK Balungtawun telah mencatat 22 produk, 54 transaksi, dan omzet Rp900.500. Pemasaran mulai menggunakan WhatsApp Business, TikTok, dan Shopee, sementara tiga pelaku UMKM telah memiliki NIB. Angka tersebut memang belum besar bila dibandingkan dengan bisnis komersial, tetapi dari perspektif pemberdayaan, perubahan terpenting adalah munculnya kemampuan untuk mengelola usaha secara lebih terstruktur dan berbasis data.

Dari pengalaman tersebut terlihat bahwa pencegahan stunting membutuhkan sebuah ekosistem. Remaja perlu mengetahui kondisi kesehatannya. Kader perlu memiliki data yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Keluarga membutuhkan akses terhadap pangan bergizi. Perempuan perlu memperoleh peluang ekonomi dari pangan lokal. Pemerintah desa pun perlu memastikan seluruh kegiatan tersebut tidak berhenti ketika pendampingan selesai.

Pengalaman di Balungtawun tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Tahun ke-2 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Tahun 2026, berdasarkan Nomor Kontrak 205.13/II.3.AU/14.00/C/PER/IV/2026. Dukungan program menjadi penting bukan semata untuk melaksanakan kegiatan, tetapi untuk menguji bagaimana pendekatan kesehatan remaja, teknologi, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi dapat dipadukan pada tingkat desa.

Karena itu, ukuran keberhasilan program seharusnya bukan hanya berapa kali pelatihan dilakukan atau berapa banyak alat yang dibagikan. Ukurannya adalah apakah masyarakat semakin mampu menjalankan program secara mandiri. Pada tahap berikutnya, penguatan kader, replikasi aplikasi ke desa lain, pengembangan Pasar Gizi, serta integrasi kegiatan ke dalam RPJMDes, RKPDes, dan dukungan APBDes menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan.
Pada akhirnya, stunting bukan hanya persoalan seorang anak yang bertubuh pendek. Ia adalah ujung dari rangkaian persoalan yang panjang: anemia remaja, kesiapan kehamilan, pola makan, akses pangan, kondisi ekonomi keluarga, hingga kemampuan desa mengelola informasi kesehatan.

Karena itu, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada “Apa yang harus diberikan kepada anak yang berisiko stunting?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “Ekosistem seperti apa yang harus dibangun agar generasi berikutnya tidak sampai mengalami stunting?”

Jawabannya dapat dimulai sejak remaja, diperkuat di dalam keluarga, dan dijaga oleh desa yang sehat, produktif, serta berdaya. Mencegah stunting tidak semestinya menunggu kehamilan.

------------------------

*) Umi Khoirun Nisak, merupakan penulis yang juga aktif mengajar di salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Sidoarjo



Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026