Jombang (ANTARA) - Cucu K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Solachul Aam Wahib Wahab, mengatakan Kiai Wahab memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya dan perkembangan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU).

"Tambakberas kan tuan rumah Muktamar, jadi kita ingin mendengar langsung pemikiran calon ketua NU ke depan soal Mbah Wahab itu seperti apa," kata Gus Aam dalam keterangan yang diterima di Jombang, Jumat.

Menurut Gus Aam, Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk kembali menggali pemikiran Mbah Wahab, terutama dalam menghadapi dinamika organisasi dan kehidupan kebangsaan.

Ia mengatakan Mbah Wahab tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri NU, tetapi juga ulama yang aktif dalam pendidikan pesantren, pergerakan nasional, politik, dan perjuangan kebangsaan.

Pemikiran dan kiprah Mbah Wahab menjadi tema dalam kegiatan bedah buku pemikiran dan biografinya yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (15/8).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menyambut Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung di Tambakberas.

K.H. Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888 dari pasangan K.H. Hasbullah Said dan Nyai Latifah. Ia tumbuh di lingkungan pesantren dan sejak kecil mendapat pendidikan agama dari keluarganya.

Mbah Wahab kemudian memperdalam ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Langitan, Mojosari, Tawangsari, Kademangan Bangkalan, Branggahan Kediri, dan Tebuireng Jombang.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Makkah dan berguru kepada sejumlah ulama, antara lain Syekh Mahfudz at-Tirmasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Pengalaman pendidikan tersebut membentuk Mbah Wahab menjadi ulama yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang fikih dan usul fikih, tetapi juga memiliki perhatian terhadap persoalan sosial, organisasi, dan kebangsaan.

Dalam bidang pergerakan, Mbah Wahab dikenal aktif membangun organisasi dan jaringan. Ia memandang organisasi dan politik sebagai sarana memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa.

Kemampuan tersebut membuat Mbah Wahab memainkan peran penting dalam perjalanan NU. Ia dikenal aktif mengorganisasi massa, membangun jaringan, bernegosiasi, serta menghadapi berbagai persoalan sosial dan politik pada masanya.

Karena kiprahnya, Mbah Wahab kerap disebut sebagai salah satu motor penggerak NU. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang memperkuat gagasan keterkaitan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan Indonesia.

K.H. Abdul Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971. Warisannya tidak hanya berupa tradisi keilmuan dan jaringan pesantren, tetapi juga gagasan tentang organisasi, perjuangan kebangsaan, serta peran ulama dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Dalam kegiatan bedah buku tersebut, sejumlah tokoh dijadwalkan hadir, antara lain Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf dan Ketua PWNU Jawa Timur K.H. Abdul Hakim Mahfudz.

"Mengundang Gus Yahya, lainnya belum ada tanggapan," kata Gus Aam.

 



Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026