Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) mendorong industri furnitur dan pengolahan kayu dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui penguasaan teknologi dan penguatan akses pasar global di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

Ketua Presidium ISWA Jimmy Chandra mengatakan Indonesia memiliki sumber daya kayu yang melimpah tetapi kekuatan tersebut perlu diikuti kemampuan mengolah kayu menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

"Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan kayu, Indonesia kaya akan kayu. Namun yang kita butuhkan lebih dari itu. Yakni nilai dari sebatang kayu yang kita miliki," kata Jimmy dalam Roadshow IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya, Jumat.

Menurut dia, modernisasi teknologi menjadi salah satu kebutuhan penting agar industri pengolahan kayu nasional mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menghasilkan produk yang lebih kompetitif di pasar internasional.

Selain penguatan teknologi di dalam negeri, Jimmy menilai dukungan terhadap promosi ekspor juga diperlukan agar produk furnitur dan kayu Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat di pasar global.

"Pemerintah itu selalu membantu kita. Seperti teknologi, pemerintah jadi jembatan untuk menyebarkan teknologi industri. Kemudian pemerintah juga harus membantu kalau kita punya produk untuk dipromosikan di luar," ujarnya.

Ia mencontohkan, kebijakan sejumlah negara yang memberikan dukungan kepada pelaku usaha untuk memasarkan produknya ke pasar luar negeri.

"Seperti China, kalau mereka punya produk dan dipromosikan ke sini itu mereka dibayar oleh pemerintah mereka. Indonesia harus melakukan seperti ini. Kalau kita tidak dibayar, bagaimana kayu kita punya daya saing di luar," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Komda Jawa Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Tina Azizi mengatakan kemampuan menguasai teknologi dan membaca peluang pasar menjadi faktor penting bagi industri untuk bertahan dan berkembang.

"Daya saing tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tapi tentang teknologi dan peluang bisnis yang luas," kata Tina.

Ia mengatakan Apkindo telah berkolaborasi dengan IFMAC & WOODMAC sejak 2019 dan berharap forum serupa dapat terus berkembang sehingga memperluas jejaring serta menciptakan ekosistem bisnis bagi industri kayu dan furnitur.

Untuk IFMAC & WOODMAC 2026 di Surabaya, Tina menuturkan ini menjadi forum pertemuan pelaku industri, asosiasi, akademisi, dan penyedia teknologi menjelang penyelenggaraan pameran utama pada September.

Sejumlah eksibitor turut menjelaskan teknologi dan pendekatan baru yang dapat diterapkan dalam rantai produksi industri furnitur dan pengolahan kayu.

Project Director IFMAC & WOODMAC Cloudinia J. Dieter mengatakan teknologi menjadi salah satu pembeda utama penyelenggaraan tahun ini yakni tidak hanya memperkenalkan mesin namun memberi solusi teknologi yang dapat diterapkan dalam proses produksi

Puncak penyelenggaraan IFMAC & WOODMAC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23–26 September 2026 di Hall B3 dan C3, JIExpo Kemayoran, Jakarta.



Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026