Kerupuk susu dipilih karena mudah diterima masyarakat, memiliki daya simpan lebih lama, serta berpeluang menjadi produk khas desa.
Surabaya (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) mendorong peningkatan nilai tambah hasil peternakan melalui pelatihan pembuatan kerupuk susu bagi masyarakat Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
Ketua Tim Program Desa Binaan UMSIDA Prof. Dr. Ir. Hana Catur Wahyuni, ST., MT., mengatakan Desa Gendro memiliki potensi besar sebagai sentra sapi perah sehingga diperlukan inovasi pengolahan susu agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Kerupuk susu dipilih karena mudah diterima masyarakat, memiliki daya simpan lebih lama, serta berpeluang menjadi produk khas desa," ujarnya melalui keterangan yang diterima di Surabaya, Jumat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Desa Binaan 2026 yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pelatihan mencakup seluruh tahapan produksi, mulai dari pemilihan bahan, formulasi, pencampuran adonan, pengukusan, pengirisan, pengeringan hingga penggorengan.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kualitas produk agar mampu bersaing di pasar.
Selain penyampaian materi, peserta mengikuti praktik langsung sehingga diharapkan mampu menerapkan teknologi pengolahan secara mandiri dan mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
UMSIDA menilai diversifikasi olahan susu dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat peternak.
Ke depan, pengembangan produk akan diarahkan pada standardisasi proses produksi, pengemasan, perizinan, penguatan identitas merek, serta perluasan pemasaran.
Melalui program tersebut, kerupuk susu diharapkan berkembang menjadi produk unggulan Desa Gendro yang mampu meningkatkan daya saing komoditas lokal sekaligus menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat.
Pewarta: Faizal FalakkiEditor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.